Menu

Abu Vulkanik Bisa Berdampak pada Kulit, Ini Cara Menjaganya Tetap Sehat

15 September 2026 22:06 WIB
Abu Vulkanik Bisa Berdampak pada Kulit, Ini Cara Menjaganya Tetap Sehat

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

 Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung membuat sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, terdampak sebaran abu vulkanik. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 6 September 2026, aktivitas Anak Krakatau bahkan menyebabkan sejumlah bandara sempat ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik.

Sejumlah imbauan pun disampaikan kepada masyarakat, mulai dari menggunakan masker, menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa, hingga mengurangi aktivitas di luar ruangan. Namun, di tengah perhatian terhadap perlindungan saluran pernapasan, dampak abu vulkanik terhadap kulit juga perlu diperhatikan karena kulit wajah dan tubuh yang terpapar langsung berisiko mengalami gangguan.

Mengapa Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Kulit?

Abu vulkanik tidak hanya dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan mata, tetapi juga kulit. Hal ini berkaitan dengan kandungan abu vulkanik yang cukup kompleks, terdiri dari berbagai unsur seperti klorida, sulfat, florida, magnesium, kalium, natrium, dan kalsium.

Sejumlah unsur tersebut bersifat asam dan dapat memicu iritasi ketika bersentuhan langsung dengan permukaan kulit. Dampaknya dapat berupa rasa gatal dan kemerahan, hingga risiko iritasi yang lebih serius, terutama pada kulit sensitif.

“Abu vulkanik itu sifatnya cukup kompleks, mengandung berbagai mineral yang sebagian bersifat asam. Kalau menempel di kulit dalam waktu lama tanpa dibersihkan, potensi iritasinya cukup nyata, apalagi bagi yang punya kulit sensitif,” jelas dr. Silvia Kartika.

Selain kandungan mineralnya, abu vulkanik memiliki tekstur berupa partikel halus yang berpotensi menyumbat pori-pori apabila menempel dalam waktu lama dan tidak dibersihkan dengan tepat. Kondisi tersebut terutama perlu diperhatikan pada area wajah yang lebih sering terpapar udara terbuka. Pori-pori yang tersumbat dapat memicu munculnya jerawat atau bruntusan beberapa hari setelah paparan.

Masker Saja Tidak Cukup

Penggunaan masker tetap penting untuk melindungi saluran pernapasan dari partikel abu vulkanik. Namun, masker tidak menutupi seluruh area wajah dan tubuh.

Bagian seperti dahi, area sekitar mata, hidung bagian atas, hingga leher masih dapat terpapar secara langsung. Karena itu, perlindungan tambahan seperti kacamata dan pakaian lengan panjang juga dapat digunakan untuk meminimalkan paparan pada kulit.

“Masker itu penting, tapi jangan berhenti di situ saja. Area wajah yang tidak tertutup masker, seperti dahi dan sekitar mata, tetap kena paparan langsung. Kacamata dan pakaian lengan panjang bisa jadi pelindung tambahan yang sering dilupakan orang,” tambah dr. Silvia Kartika.

5 Langkah Melindungi Kulit dari Abu Vulkanik

Selama kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi kulit.

1. Gunakan pelindung tambahan
Selain masker, gunakan kacamata dan pakaian lengan panjang untuk meminimalkan area kulit yang terpapar secara langsung.

2. Segera bersihkan kulit setelah beraktivitas di luar ruangan
Terutama pada wajah, gunakan pembersih yang lembut untuk mengangkat partikel abu yang menempel.

3. Hindari menggosok kulit terlalu keras
Gesekan berlebih saat membersihkan sisa abu justru berisiko memperparah iritasi pada kulit yang sudah terpapar.

4. Gunakan pelembap
Pelembap dapat membantu menjaga skin barrier, terutama ketika kulit mulai terasa kering atau kasar setelah terpapar.

5. Perhatikan tanda iritasi
Kemerahan, gatal, atau rasa perih pada kulit perlu diperhatikan. Jika gejala tidak kunjung membaik, segera periksakan diri.

“Yang sering saya sarankan ke pasien adalah jangan tunda membersihkan wajah setelah beraktivitas di luar saat kondisi udara sedang seperti ini. Semakin lama partikel menempel, semakin besar risiko iritasi atau pori-pori tersumbat,” ujar dr. Silvia Kartika.

Perawatan Kulit Setelah Terpapar Abu Vulkanik

Bagi kulit yang sudah terpapar abu vulkanik dalam durasi cukup lama, terutama pada wajah yang lebih sensitif dan sulit sepenuhnya terlindungi meski telah menggunakan masker, pembersihan menyeluruh menjadi langkah penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori berkembang menjadi masalah kulit yang lebih besar.

Salah satu pilihan perawatan yang tersedia di Seraphim Beauty & Aesthetic Center untuk kebutuhan tersebut adalah Facial by Phyto.

Facial by Phyto merupakan terapi facial wajah yang menggunakan bahan-bahan alami dengan pendekatan energi lima elemen, yaitu wood, fire, earth, metal, dan water. Pendekatan ini dirancang untuk membersihkan kulit secara menyeluruh sekaligus menenangkan kondisi kulit yang mungkin sedang sensitif akibat paparan lingkungan, seperti debu maupun abu vulkanik.

“Setelah kulit terpapar debu atau partikel halus seperti abu vulkanik, langkah pembersihan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori dan iritasi berkelanjutan. Facial by Phyto kami pilih karena pendekatannya menggunakan bahan alami, sehingga cocok digunakan pada kondisi kulit yang sedang lebih sensitif dari biasanya,” jelas dr. Silvia Kartika.

Facial by Phyto memiliki sejumlah manfaat, antara lain:

  • Membersihkan pori-pori wajah secara menyeluruh.
  • Membantu meredakan jerawat dan bruntusan yang mungkin muncul akibat pori-pori tersumbat.
  • Menenangkan kulit yang sedang sensitif atau mudah teriritasi.
  • Membantu mencerahkan kulit yang tampak kusam akibat paparan debu dan polusi.
  • Menutrisi kulit wajah dengan bahan-bahan alami.

Menurut dr. Silvia, kombinasi pembersihan mendalam dan bahan-bahan alami membuat Facial by Phyto dapat digunakan sebagai perawatan rutin maupun langkah pemulihan setelah kulit terpapar kondisi lingkungan yang kurang bersahabat.

Meski demikian, kulit yang sedang mengalami iritasi aktif, seperti kemerahan, gatal parah, atau luka terbuka akibat garukan, sebaiknya tidak langsung menjalani facial. Kondisi tersebut perlu dikonsultasikan terlebih dahulu untuk memastikan penanganan yang tepat.

“Kalau kulit sedang iritasi berat, sebaiknya ditenangkan dulu kondisinya sebelum menjalani prosedur facial apa pun. Konsultasi terlebih dahulu penting untuk menentukan apakah kondisinya sudah memungkinkan untuk perawatan lanjutan atau perlu penanganan iritasi terlebih dahulu,” pungkas dr. Silvia Kartika.

Jangan Abaikan Kondisi Kulit

Di tengah situasi sebaran abu vulkanik, perhatian masyarakat memang banyak tertuju pada perlindungan pernapasan dan keselamatan secara umum. Namun, kesehatan kulit juga perlu menjadi bagian dari kewaspadaan karena kulit merupakan organ terluar yang paling sering bersentuhan langsung dengan partikel abu di udara.

Bagi masyarakat yang mengalami tanda-tanda seperti iritasi, kulit kusam, atau munculnya jerawat setelah terpapar abu vulkanik, kondisi kulit dapat dikonsultasikan bersama dr. Silvia Kartika di Beauty & Aesthetic Center, Seraphim Medical Center, untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang sesuai, termasuk menentukan apakah Facial by Phyto sesuai dengan kondisi kulit saat ini.

Seraphim Medical Center, salah satu unit bisnis Bethsaida Healthcare, berlokasi di Paramount Gading Serpong. Fasilitas ini memiliki sejumlah layanan, termasuk Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center yang terintegrasi sebagai bagian dari pendekatan gaya hidup sehat modern.

Baca Juga: Tren Estetika Makin Ramai, Beauty Perlu Tahu Mana yang Dibutuhkan

Baca Juga: Cantik Tak Hanya Soal Perawatan, MAC Hadir Usung Konsep Wellness di Bandung

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan