Ilustrasi kesehatan jantung. (pinterest/freepik)
Penyakit jantung koroner yang terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi di bidang kardiovaskular turut mendorong kemajuan prosedur intervensi koroner perkutan (Percutaneous Coronary Intervention/PCI), yang lebih dikenal masyarakat sebagai prosedur pemasangan ring dan balon jantung.
Salah satu perkembangan terbaru dalam prosedur tersebut adalah Drug-Coated Balloon (DCB) atau balon berbalut obat. Teknologi ini menawarkan pendekatan intervensi tanpa meninggalkan implan permanen di dalam pembuluh darah.
“Ini menjadi inovasi baru yang tujuannya untuk membuka aliran darah ke otot jantung dengan cara yang aman dan hasilnya bisa jangka panjang,” jelas dr. Rizki, Sp.JP (K), FIHA, Konsultan Intervensi Jantung Eka Hospital MT Haryono.
Teknologi intervensi pada pembuluh darah jantung telah melalui beberapa tahap perkembangan. Berikut empat metode yang digunakan dalam perjalanan pengobatan penyakit jantung koroner:
1. Balon Angioplasti Konvensional
Dikenal sebagai Plain Old Balloon Angioplasty (POBA), metode ini merupakan salah satu teknologi awal dalam intervensi pembuluh darah jantung.
Prosedurnya dilakukan dengan mengembangkan balon kecil di dalam pembuluh darah untuk meregangkan area yang mengalami penyempitan. Meski dapat membantu membuka sumbatan, metode ini memiliki angka penyempitan kembali atau restenosis yang cukup tinggi karena pembuluh darah cenderung mengalami elastic recoil atau kembali menyempit.
2. Pemasangan Ring Jantung Konvensional
Berikutnya hadir Bare-Metal Stent (BMS), yaitu jaring logam yang berfungsi menyangga dinding pembuluh darah agar tidak kembali menguncup.
Namun, penggunaan ring jantung konvensional juga memiliki tantangan. Jaringan parut alami tubuh dapat tumbuh di dalam ring dan menyebabkan penyempitan kembali atau in-stent restenosis.
3. Ring Jantung Berbalut Obat
Teknologi kemudian berkembang melalui Drug-Eluting Stent (DES), yaitu ring yang dilapisi obat untuk mencegah pertumbuhan jaringan parut secara berlebihan di dalam stent.
Hingga saat ini, DES menjadi standar utama dalam penanganan penyumbatan pembuluh darah koroner.
4. Balon Jantung Berbalut Obat
Inovasi berikutnya adalah Drug-Coated Balloon (DCB), yaitu balon khusus yang bagian luarnya dilapisi obat antirestenosis.
Teknologi ini menawarkan terapi tanpa meninggalkan implan permanen di dalam tubuh.
Menurut dr. Rizki, DCB merupakan teknologi intervensi jantung berupa balon khusus dengan permukaan yang dilapisi obat antirestenosis.
Saat balon dimasukkan ke area pembuluh darah yang mengalami penyempitan dan dikembangkan selama beberapa detik, obat pada permukaan balon akan ditransfer langsung ke dinding pembuluh darah.
Setelah obat terserap, balon kemudian dikempiskan dan dikeluarkan dari dalam tubuh. Dengan demikian, tidak ada benda asing atau implan permanen yang ditinggalkan di dalam pembuluh darah.
Meski tidak sepenuhnya menggantikan peran ring berbalut obat atau DES, DCB dapat menjadi pilihan medis untuk kondisi tertentu.
Salah satunya adalah penyempitan kembali di dalam ring atau in-stent restenosis. Pada kondisi ini, DCB dapat digunakan untuk menangani sumbatan kembali pada pasien yang sebelumnya telah menjalani pemasangan ring tanpa perlu menambahkan ring baru.
DCB juga dapat digunakan pada pembuluh darah berukuran kecil, termasuk pembuluh darah cabang yang terlalu kecil untuk dipasangi stent logam.
Selain itu, teknologi ini menjadi pilihan pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi. Karena tidak meninggalkan implan, durasi konsumsi obat pengencer darah ganda atau Dual Antiplatelet Therapy (DAPT) dapat disesuaikan lebih singkat dibandingkan pemasangan ring konvensional.
Salah satu keunggulan DCB adalah tidak meninggalkan implan permanen. Dengan demikian, struktur alami pembuluh darah tetap terjaga dan dapat merespons vasomotion, yaitu pelebaran dan penyempitan alami pembuluh darah secara normal.
Selain itu, obat dapat diserap secara cepat dan merata. Obat bekerja langsung pada area yang menjadi target untuk membantu mencegah pembentukan jaringan parut.
Ketiadaan implan logam juga dapat memudahkan prosedur medis di masa depan. Karena tidak ada jaringan logam yang tertinggal, pilihan terapi maupun tindakan medis lain di kemudian hari tetap terbuka.
Meski demikian, pemilihan metode intervensi jantung, baik menggunakan ring berbalut obat (DES) maupun balon berbalut obat (DCB), tetap perlu didasarkan pada evaluasi klinis serta struktur anatomi pembuluh darah masing-masing pasien.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.