Menu

Kulit Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Belum Tentu Sehat Lho Beauty! Kok Bisa?

26 September 2026 21:21 WIB
Kulit Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Belum Tentu Sehat Lho Beauty! Kok Bisa?

Wardah (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, kulit yang terlihat normal belum tentu sedang dalam kondisi optimal. Sensasi seperti perih, panas, gatal, tingling, kemerahan, hingga breakout dapat menjadi sinyal yang menunjukkan kulit sedang menghadapi tekanan tertentu. 

Pendekatan untuk memahami kondisi tersebut kini mulai melihat lebih jauh dari sekadar tipe kulit, termasuk kemungkinan pemicu dan gaya hidup sehari-hari.

Studi yang dipublikasikan dalam Acta Dermato-Venereologica menyebutkan bahwa reactive skin bukan lagi kondisi yang niche. Satu dari dua orang dilaporkan memiliki kulit reaktif. Kondisi tersebut dapat muncul berulang dan membuat proses recovery kulit menjadi lebih kompleks.

Melihat kebutuhan tersebut, Wardah menghadirkan Wardah Derma Longevity Lab di Main Atrium Pondok Indah Mall 2, Jakarta, pada 24–27 September 2026. Melalui pendekatan “Skin Trigger-to-Personalized Skin Recovery”, pengunjung diajak mengenali kemungkinan pemicu masalah kulit sebelum mendapatkan panduan recovery yang lebih personal.

Salah satu tahapannya menggunakan Advanced Personalized Skin Analyzer. Teknologi berbasis AI ini menganalisis sejumlah parameter kulit dan menggabungkannya dengan lifestyle assessment. Hasilnya dirangkum dalam Skin ID Blueprint untuk membantu melihat hubungan antara kondisi kulit, skin barrier, dan kebiasaan sehari-hari.

“Kulit tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat di permukaan. Melalui Advanced Personalized Skin Analyzer dan Advanced Skin ID Blueprint yang dihadirkan di Wardah Skin Longevity Lab, memahami sinyal kulit dilakukan secara lebih objektif. Kita dapat menelusuri kemungkinan pemicu kulit bermasalah (skin problem triggers) dengan bantuan interpretasi assesment dari dermatologist dapat menentukan recovery guidance yang lebih tepat untuk membantu menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang,” ungkap dr. Arlene Rainamira, Sp.DVE, Dermatologist.

Skin ID Blueprint tersebut mempertimbangkan enam lifestyle inputs, yakni sleep, stress, nutrition, gut health, movement, dan daily exposure. Faktor-faktor tersebut dapat membantu melihat kemungkinan kaitan antara rutinitas harian dengan kulit kusam, kemerahan, kekeringan, breakout, maupun proses recovery yang kurang optimal.

Pendekatan ini juga memperkenalkan konsep Skin Immunity sebagai sistem pertahanan alami kulit dalam menghadapi berbagai pemicu. Perubahan cuaca, polusi, stres, kurang tidur, gesekan, hingga penggunaan produk yang kurang sesuai dapat menjadi tekanan bagi kulit.

Konsep tersebut kemudian terhubung dengan Skin Longevity, yang menempatkan kesehatan kulit jangka panjang sebagai perhatian, bukan hanya memperbaiki masalah yang sudah terlihat. Melalui pendekatan ini, proses perawatan diarahkan pada dukungan terhadap skin barrier, recovery, dan resiliensi kulit.

“Di Wardah Derma Longevity Lab, kami ingin mengedukasi konsumen untuk membantu konsumen memahami sinyal yang diberikan kulitnya, mengenali kemungkinan pola yang mempengaruhinya, dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi tersebut kembali muncul,” ucap Arum Pratiwi, Head of Wardah Skincare.

Rangkaian assessment di Wardah Derma Longevity Lab juga mencakup Dermascope, Temperature Provocation Test, Wardah Dryness Test, dan Dino-Lite yang digunakan sesuai kebutuhan untuk membantu melihat kondisi kulit secara lebih detail.

Baca Juga: Cantik Tanpa Banyak Cuti? Bisa Banget! Ini Tren Kecantikan Minim Downtime

Baca Juga: Hasil Alami dan Minim Downtime Kini Jadi Incaran

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan