Menu

Prestasi Anak Tak Hanya soal Nilai Rapor, Orang Tua Perlu Kenali Potensinya

09 Oktober 2026 14:07 WIB
Prestasi Anak Tak Hanya soal Nilai Rapor, Orang Tua Perlu Kenali Potensinya

Champion (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Prestasi anak tidak selalu tercermin dari nilai rapor atau kemampuan akademis lho Moms.

Anak juga bisa menunjukkan potensi melalui seni, musik, olahraga, hingga kreativitas. Karena itu, orang tua perlu mengenali minat dan kemampuan anak agar mereka mendapat dukungan yang sesuai untuk mengembangkan potensinya.

Hal tersebut disampaikan dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Anugerah Pekalongan. Menurutnya, kecerdasan anak tidak bisa diukur hanya dari satu standar atau kemampuan akademis tertentu.

“Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika, tidak semua anak harus jago fisika. Karena anak itu yang kita bilang kepintaran itu macem-macem. Wih anaknya itu jago banget ngegambar, musiknya keren banget. Anak-anak dyslexia, itu rata-rata musiknya (dan) ngegambarnya keren banget. Masa mau kita bilang dia ga pinter? Enggak, dia jenius di bidangnya, dia jenius di bidang musik, dia jenius di bidang menggambar. Jadi IQ tidak sebagai patokan,” ujar dr. Shyrien.

Untuk mengenali potensi tersebut, orang tua dapat mengamati kegiatan yang membuat anak antusias, mendengarkan ceritanya, serta memberi kesempatan untuk mencoba hal baru. Pendampingan juga diperlukan ketika anak menghadapi kesulitan, tanpa terburu-buru membandingkan pencapaiannya dengan anak lain.

Bagi Beauty yang mendampingi anak usia sekolah, memperhatikan minat anak dalam keseharian dapat menjadi langkah awal untuk memahami kemampuan yang ingin dikembangkannya.

“Itu semua siapa yang tahu? orang tuanya kan? Orang tuanya yang bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak menilai, tidak mengevaluasi, dia tidak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting (dukungan orang tua terhadap anak),” kata dr. Shyrien.

Selain pendampingan, ia turut menyoroti peran nutrisi dalam perkembangan anak, termasuk dukungan terhadap fungsi saraf dan kemampuan kognitif.

“Tapi itu semua butuh nerve (saraf) yang saling berkomunikasi, persarafan yang saling berkomunikasi (dan) saling mendukung. Nah itu yang kita penuhi dari nutrisi, memori kognisi yang baik, nah itu yang kita penuhi dari AHA/DHA,” jelasnya.

Ia menambahkan, “AHA/DHA mendukung agar anak IQ-nya mencapai titik optimal yang bisa dicapai.”

Perhatian terhadap nutrisi menjadi salah satu bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak. Untuk usia 7–12 tahun, Champion hadir sebagai minuman cokelat yang diperkaya DHA dan dilengkapi 10 jenis vitamin. Produk tersebut membawa pesan kampanye “Juara Enaknya, Juara Nutrisinya!” yang mengaitkan perhatian pada nutrisi dengan dukungan terhadap anak usia sekolah.

Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, Haruman Rustandi, mengatakan bahwa dukungan terhadap potensi anak perlu berjalan beriringan dengan perhatian pada kebutuhan nutrisinya.

“Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak, lalu hadir untuk mendukung prosesnya. Kami berharap Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,” ujarnya.

Sejalan dengan pesan tersebut, Champion menghadirkan program Anak Juara Champion (AJC), sebuah ajang apresiasi bagi anak Indonesia dengan beragam bakat, mulai dari akademis, seni, olahraga, hingga kreativitas digital. Anak-anak terpilih dalam program ini juga akan dianugerahi Beasiswa Anak Juara Champion sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan dan masa depan mereka.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pintar, Ternyata Anak Juga Harus Aktif Bergerak Lho Moms!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan