SKIA E&C. (Istimewa)
Kebakaran bisa menjadi risiko serius di berbagai tempat, mulai dari gudang, gedung perkantoran, hingga fasilitas industri dan pusat data. Karena itu, upaya menjaga keselamatan tidak cukup hanya dengan menyediakan alat pemadam. Sistem deteksi, pemantauan kondisi fasilitas, dan kesiapan orang-orang yang bertugas juga perlu diperhatikan.
Seiring perkembangan teknologi, pemanfaatan Internet of Things (IoT) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu pengelola fasilitas memantau kondisi sistem secara lebih terstruktur.
SKIA E&C Pte Ltd Kantor Perwakilan Indonesia menyoroti pentingnya mengintegrasikan teknologi, peralatan proteksi kebakaran, dan kesiapsiagaan personel untuk mendukung pengelolaan risiko di berbagai lingkungan operasional.
Director SKIA E&C Pte Ltd Kantor Perwakilan Indonesia, Ang Tiat Leong, menjelaskan bahwa keselamatan kebakaran membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya bergantung pada satu perangkat.
“Keselamatan kebakaran tidak hanya bergantung pada satu perangkat atau teknologi. Deteksi, pemantauan, peralatan proteksi yang sesuai, dan kesiapsiagaan personel perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan yang terintegrasi,” ujar Ang Tiat Leong.
Secara sederhana, IoT memungkinkan perangkat tertentu terhubung melalui jaringan untuk mengirimkan data atau informasi mengenai status operasionalnya. Dalam sistem proteksi kebakaran, kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pemantauan kondisi perangkat dan menyampaikan informasi kepada pihak yang bertanggung jawab ketika terdapat indikasi masalah.
Pendekatan tersebut dapat dipertimbangkan untuk berbagai fasilitas, termasuk gudang, bangunan komersial, pusat data, serta lokasi yang menggunakan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Meski begitu, penerapannya tidak bisa disamaratakan. Setiap fasilitas memiliki karakteristik dan potensi risiko yang berbeda sehingga pemilihan teknologi serta perangkat proteksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan keselamatan yang berlaku.
Teknologi juga bukan jaminan bahwa kebakaran tidak akan terjadi. Sistem yang digunakan tetap membutuhkan desain yang tepat, instalasi berkualitas, pemeliharaan berkala, serta komunikasi yang andal agar informasi yang diterima dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Selain dukungan teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keselamatan. Pengelola fasilitas perlu memastikan bahwa ada pembagian tanggung jawab yang jelas mengenai pemantauan sistem, penerimaan peringatan, dan tindakan yang harus dilakukan ketika muncul indikasi masalah.
Peralatan proteksi pun perlu diperiksa dan dirawat secara berkala. Pelatihan bagi personel yang bertugas juga diperlukan agar mereka memahami prosedur keselamatan dan respons darurat yang berlaku di tempat kerja.
SKIA E&C menekankan bahwa pemantauan berbasis IoT sebaiknya menjadi bagian dari sistem keselamatan yang lebih luas. Artinya, teknologi dapat membantu pengawasan, tetapi tidak menggantikan peralatan proteksi, prosedur darurat, maupun kesiapan personel.
Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan sistem proteksi tetap sesuai dengan kebutuhan fasilitas, terutama ketika aktivitas operasional berubah atau muncul kebutuhan keselamatan baru.
Pada akhirnya, membangun lingkungan yang lebih aman membutuhkan kombinasi antara teknologi yang sesuai, peralatan yang terpelihara, dan orang-orang yang siap merespons keadaan darurat. Dengan pendekatan yang terintegrasi, pengelolaan risiko kebakaran dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.