Sumber: istimewa
Sulit berkonsentrasi, mudah merasa cemas, suasana hati yang berubah-ubah, hingga gangguan tidur kerap dianggap sebagai dampak kelelahan atau banyaknya pikiran. Padahal, jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober, penting untuk memahami kondisi otak dan pikiran sejak dini, tanpa harus menunggu hingga gejala mengganggu aktivitas sehari-hari.
Salah satu teknologi yang dapat membantu dokter memahami aktivitas otak secara lebih objektif adalah quantitative electroencephalography (qEEG) atau qEEG Brain Mapping. Teknologi ini merekam aktivitas listrik otak, kemudian mengolahnya menjadi gambaran visual yang dapat membantu proses evaluasi kondisi seseorang.
Menurut dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K., banyak orang baru mencari bantuan ketika kondisinya mulai mengganggu keseharian.
“Banyak orang menunggu sampai kondisinya benar-benar mengganggu keseharian baru mencari bantuan. Padahal, semakin dini kita memahami apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan pikiran kita, semakin banyak pula pilihan penanganan yang bisa dilakukan,” ujar dr. Oktaviana.
Meski istilahnya terdengar teknis, cara kerja qEEG cukup mudah dipahami. Otak manusia menghasilkan sinyal listrik kecil ketika sel-sel saraf saling berkomunikasi. Sinyal tersebut direkam menggunakan sensor yang ditempelkan pada permukaan kulit kepala, tanpa suntikan maupun operasi.
Data yang terkumpul kemudian diolah menjadi gambaran visual aktivitas listrik otak. Hasilnya dapat dibandingkan dengan pola aktivitas otak dalam data normatif untuk melihat area yang menunjukkan pola berbeda dari kebanyakan orang.
“Sederhananya, qEEG itu seperti membuat 'peta' dari aktivitas listrik otak kita. Peta ini kemudian dibandingkan dengan pola otak orang-orang pada umumnya, sehingga kita bisa melihat area mana yang polanya berbeda dari kebanyakan orang,” jelas dr. Oktaviana.
Dengan gambaran tersebut, dokter memperoleh informasi tambahan untuk memahami aktivitas otak pasien. Namun, hasil pemetaan tetap perlu ditafsirkan bersama informasi klinis lainnya.
Pemeriksaan qEEG dilakukan melalui beberapa tahapan. Prosesnya tidak melibatkan tindakan invasif dan pasien tidak memerlukan jarum ataupun sayatan.
Pertama, sejumlah sensor kecil ditempelkan pada permukaan kulit kepala. Setelah itu, pasien duduk dengan tenang selama beberapa menit ketika alat merekam aktivitas listrik otak, baik dalam kondisi mata terbuka maupun tertutup.
Rekaman tersebut kemudian diolah menggunakan sistem komputer hingga menghasilkan gambaran visual aktivitas otak di berbagai area. Tahap berikutnya adalah membandingkan pola yang diperoleh dengan basis data pola otak normatif untuk melihat bagian yang menunjukkan perbedaan.
“Seluruh prosesnya nyaman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Pasien hanya perlu duduk tenang, tidak perlu takut ada tindakan medis yang invasif,” tambah dr. Oktaviana.
Hal penting yang perlu dipahami adalah qEEG bukan alat yang dapat berdiri sendiri untuk menentukan apakah seseorang memiliki gangguan mental tertentu.
Teknologi ini memberikan gambaran mengenai aktivitas listrik otak, tetapi hasilnya perlu dipadukan dengan wawancara medis, pemeriksaan langsung, dan, jika diperlukan, pemeriksaan lainnya.
“qEEG memberi gambaran objektif soal aktivitas otak, tapi tetap perlu digabungkan dengan wawancara medis, pemeriksaan langsung, dan kadang pemeriksaan lain. Tidak ada satu alat pun yang bisa berdiri sendiri untuk menyimpulkan kondisi seseorang,” jelas dr. Oktaviana.
Dengan demikian, qEEG berfungsi sebagai petunjuk tambahan bagi dokter, bukan sebagai kesimpulan akhir. Informasi yang diperoleh dapat membantu memberikan gambaran lebih lengkap sebelum dokter menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Menurut dr. Niken, teknologi seperti qEEG juga dapat membantu masyarakat memahami kesehatan mental dengan lebih konkret, terutama karena kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan tanda yang terlihat secara fisik.
“Kesehatan mental itu sering terasa abstrak buat orang awam, karena tidak terlihat seperti luka fisik. Dengan alat seperti qEEG, kita bisa memberi gambaran yang lebih konkret tentang apa yang terjadi di otak, sehingga orang jadi lebih mudah memahami kondisinya sendiri, dan tidak takut untuk mencari bantuan,” ungkap dr. Niken.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kesehatan mental tidak seharusnya ditunda hingga kondisi memburuk. Kesulitan berkonsentrasi, kecemasan yang mudah muncul, atau gangguan tidur berkepanjangan dapat menjadi alasan untuk mulai berkonsultasi dengan tenaga medis.
Mencari bantuan bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan diri sendiri. Sebaliknya, konsultasi dapat menjadi langkah untuk memahami kondisi diri dan menentukan tindakan yang tepat sejak awal.
“Konsultasi bukan berarti ada yang 'salah' dengan diri kita. Justru itu adalah cara untuk memahami diri sendiri secara lebih objektif, sehingga kita bisa mengambil langkah yang tepat lebih awal,” pungkas dr. Niken.
Bagi masyarakat yang ingin memahami kondisi kesehatan otak dan mental secara lebih menyeluruh, konsultasi bersama dr. Niken di Brain Wellness & Sleep Center, Seraphim Medical Center, dapat menjadi salah satu langkah awal.
Seraphim Medical Center merupakan salah satu unit bisnis Bethsaida Healthcare yang berlokasi di Paramount Gading Serpong, Tangerang. Pusat layanan ini mengembangkan pendekatan kesehatan berbasis kedokteran fungsional dengan layanan yang dirancang secara personal. Layanan unggulannya meliputi Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.