Menu

97 Pasien Jalani Operasi Katarak, Ini Langkah Primaya Hospital Perluas Akses Pengobatan di Jakarta

31 Oktober 2026 22:17 WIB
97 Pasien Jalani Operasi Katarak, Ini Langkah Primaya Hospital Perluas Akses Pengobatan di Jakarta

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Gangguan penglihatan akibat katarak masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, termasuk di Jakarta. Selain memengaruhi kemampuan melihat, kondisi ini juga dapat menghambat aktivitas sehari-hari hingga produktivitas seseorang. Untuk mempercepat akses penanganan, Primaya Hospital Group berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta melalui program Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa.

Program bakti sosial operasi katarak tersebut digelar dalam rangka memperingati World Sight Day 2026 pada Oktober. Inisiatif ini digagas oleh Founder Primaya Hospital Group, Prof. Yos E. Susanto, bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, MM.

Kolaborasi ini ditujukan untuk membantu mempercepat penanganan warga yang selama ini harus menunggu antrean operasi katarak selama 1–2 bulan.

Pada tahap awal, sebanyak 97 pasien menjalani operasi katarak di RSUD Pasar Minggu pada 30–31 Oktober 2026. Pasien tersebut merupakan hasil skrining dari sejumlah RSUD dan Primaya Hospital di Jakarta.

Pelaksanaan program turut melibatkan 40 puskesmas untuk skrining awal serta sekitar 19 dokter spesialis mata dari PERDAMI.

Ribuan Penderita Katarak Teridentifikasi di Jakarta

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, saat ini terdapat sekitar 3.700 penderita katarak yang telah teridentifikasi. Sementara itu, pada 2025 terdapat sekitar 11.000 kasus yang menjadi target penanganan, termasuk penderita dari kelompok usia produktif.

CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan organisasi profesi untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa merupakan wujud kolaborasi public-private partnership dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen Primaya Hospital untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat (public health) di Indonesia. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh bahwa sinergi antara sektor swasta, asosiasi profesi, dan pemerintah mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui percepatan penanganan katarak,” ujar Leona.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, MM, turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam program tersebut. Menurutnya, percepatan penanganan katarak penting agar semakin banyak masyarakat memperoleh tindakan sesuai kebutuhan medis.

“Program ini menjadi istimewa karena melibatkan berbagai unsur, mulai dari Primaya Hospital, PERDAMI, hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kami ingin memastikan semakin banyak penderita katarak dapat segera memperoleh penanganan. Hal ini penting, terutama bagi masyarakat usia produktif agar dapat kembali bekerja dan beraktivitas dengan lebih baik,” jelas Ani.

Operasi Tetap Mengutamakan Standar Medis dan Keselamatan Pasien

Meski bertujuan mempercepat akses penanganan, pelaksanaan operasi katarak dalam program ini tetap memperhatikan standar pelayanan medis dan keselamatan pasien.

Ketua PERDAMI, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menegaskan bahwa pasien perlu memenuhi sejumlah kriteria sebelum menjalani tindakan operasi.

“Bakti sosial operasi katarak tetap harus mengutamakan standar pelayanan medis dan keselamatan pasien. Pasien perlu memenuhi kriteria usia sekitar 20 hingga 75 tahun, dalam kondisi fisik yang fit, serta mampu bekerja sama selama tindakan. Hal ini penting karena operasi dilakukan dengan bius lokal atau topikal sehingga membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter,” jelasnya.

Primaya Hospital Buka Peluang Kolaborasi Lebih Luas

Gerakan Jakarta Bebas Katarak juga diharapkan dapat berkembang melalui keterlibatan lebih banyak pihak. Sebagai bagian dari keberlanjutan program, Primaya Hospital Group membuka kesempatan bagi rumah sakit swasta dan asosiasi rumah sakit swasta di Indonesia untuk bergabung.

Leona menyampaikan bahwa perluasan kolaborasi diharapkan dapat membantu menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan penanganan katarak.

“Kami terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak swasta, termasuk rumah sakit swasta dan asosiasi rumah sakit di Indonesia, agar gerakan ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Kami berharap semakin luas kolaborasi yang terjalin, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” tutup Leona.

Melalui Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa, Primaya Hospital Group bersama Pemprov DKI Jakarta dan PERDAMI Jakarta berupaya mempercepat akses penanganan katarak bagi masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas, terutama bagi warga yang membutuhkan tindakan medis agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Baca Juga: Melihat Wajah Baru Dharma Nugraha Hospital: Lebih Modern dan Nyaman Beauty!

Baca Juga: Dari Preventif hingga Rehabilitatif, Bethsaida Healthcare Fokus Kembangkan Layanan Terintegrasi di 2026

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan