Kandidat Miss Grand International 2020 dari Myanmar, Thaw Nandar Aung atau Han Lay, memberikan pidato yang sangat menyentuh di atas panggung kontes untuk menjelaskan perjuangan penuh darah untuk demokrasi di negara asalnya. Di tengah kemegahan dan kemewahan malam penobatan Miss Grand International 2020, Han Lay naik ke panggung untuk berbicara tentang situasi yang memburuk di Myanmar.

Myanmar saat ini mengalami krisis demokrasi, setelah militer mengambil alih negara tersebut pada 1 Februari 2021, serta menahan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi. Sejak itu, warga negara itu turun ke jalan untuk memprotes pengambilalihan militer, dengan hampir 400 orang kehilangan nyawa sejak kudeta.

Pada 27 Maret 2021, hari yang sama dengan malam penobatan Miss Grand International, 64 orang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar, korbannya termasuk seorang anak kecil.

"Sangat sulit bagiku untuk bisa berdiri di atas panggung malam ini," kata Han Lay, di momen khusyuk di sela-sela acara kontes kecantikan.

"Hari ini di negara saya Myanmar, mengapa saya berpidato di panggung ini, ada begitu banyak orang yang meninggal," katanya sambil menangis. "Saya sangat merasa kasihan pada semua orang yang telah kehilangan nyawa mereka."

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa ketika orang-orangnya berjalan di jalan untuk demokrasi, dia berdiri di atas panggung untuk menyerukan demokrasi juga.

"Tolong bantu Myanmar. Kami membutuhkan bantuan internasional yang mendesak sekarang," katanya. Dia juga mendesak orang-orang di seluruh dunia untuk membantu menemukan solusi atas masalah mereka.

"Mari ciptakan dunia yang lebih baikā€¦ semoga dunia berdamai dengan Myanmar."

Dia mengakhiri pidatonya dengan menyanyikan bagian dari Michael Jackson 'Heal the World'.

Ini bukan pertama kalinya ratu kecantikan tersebut meningkatkan kesadaran tentang kekerasan di Myanmar. Dalam postingan sebelumnya di media sosialnya, dia membagikan penggalangan dana untuk Gerakan Pembangkangan Sipil Myanmar, yang memimpin protes tanpa kekerasan terhadap pemerintahan militer.

Dia juga berbagi penghormatan kepada mereka yang telah terbunuh, dan mengunggah informasi tentang penangkapan pengunjuk rasa, termasuk beberapa rekan mahasiswa yang satu almamater dengan dirinaya di Universitas Yangon.

Baca Juga: Sebelum Tewas, Deng Jia Xi Salah Satu Massa Aksi di Myanmar Minta Organ Tubuhnya Didonorkan Saja