Indonesia memiliki beragam tradisi, terutama ketika menyambut pernikahan. Salah satu tradisi yang wajib dilestarikan adalah rutial Peta Kapanca dari Suku Bima, Nusa Tenggara Barat.

Tradisi Peta Kapanca biasanya dilakukan oleh calon pengantin wanita sebelum pernikahan di gelar. Biasanya Peta Kapanca dilakukan pada malam hari.

merupakan salah satu tradisi yang melekat pada masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tradisi tersebut biasa dilakukan khusus oleh para kaum wanita sebagai salah satu rangkaian prosesi dalam acara pernikahan.

Melansir berbagai sumber, kata Peta berarti menghaluskan atau melumat, sedangkan Kapanca adalah daun pacar. Saat melakukan Peta Kapanca, para calon pengantin wanita dilumatkan daun pacar di kedua telapak tangannya.

Dalam tradisi ini, calon pengantin wanita juga melakukan beberapa prosesi, seperti mandi uap atau dikenal dengan sebutan Sangongo, dilanjutin dengan siraman yang disebut Boho Oi Mbaru, kemudian calon pengantin dirias dengan sebutan Cafi Ra Hambu Maru. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol bahwa calon pengantin wanita siap untuk dipinang oleh laki-laki pilihannya.

Demi kelancaran serta mendapatkan berkah dari pernikahan, tradisi Peta Kapanca ini pun diiringi syair serta zikir yang sangat kental dengan budaya Islam. Selain itu, terdapat pula 99 butir telur sebagai simbol Asmaul Husna untuk direbuti anak-anak gadis yang ikut serta dalam tradisi Peta Kapanca agar segera menemukan jodohnya.