Perselingkuhan jadi salah satu momok mengerikan yang melekat dalam sebuah hubungan. Hancurnya hubungan disebabkan oleh beberapa masalah, salah satunya adalah perselingkuhan.

Diperkirakan 15 sampai 25 persen pasangan heteroseksual yang menikah mengalami perselingkuhan. Banyak pasangan yang memilih untuk berpisah setelah diselingkuhi. Hal itu dibuktikan dengan penelitian yang mengungkap fakta bahwa perselingkuhan adalah faktor umum yang mendasari 40 hingga 50 persen pernikahan yang berakhir dengan perceraian.

Dalam hubungan heteroseksual, beberapa penelitian menemukan bahwa pria lebih sering berselingkuh. Hal itu dipaparkan oleh Christin Munsch, sosiolog di University of Connecticut.

"Pergeseran budaya kemungkinan besar terkait dengan ekpektasi dalam pernikahan. Ketika ekspektasi tak sesuai, maka seseorang memutuskan untuk selingkuh," ujar Munsch.

"Selain itu, zaman sekarang perceraian menjadi hal yang sudah bisa diterima oleh masyarakat sehingga orang-orang merasa tak masalah dengan selingkuh meskipun pernikahannya terancam bercerai," lanjutnya.

Di sisi lain, masih banyak wanita yang bertahan dalam rumah tangga meski diselingkuhi pasangannya. Apa penyebab wanita enggan untuk meninggalkan hubungan tersebut?

Menurut penulis "Healing from Infidelity", Michele Weiner-Davis, anak-anak adalah salah satu dari banyak faktor mengapa wanita memilih tetap bersama meski sudah diselingkuhi. Selain itu, ada alasan lain, seperti umur pernikahan yang sudah lama sehingga merasa bahwa kurang baik untuk berpisah.

Baca Juga: Gaji Istri Lebih Besar dari Suami? Ini 3 Cara Efektif untuk Mencegah Masalah dalam Rumah Tangga

Selain itu, masalah ekonomomi juga jadi salah satu alasan wanita bertahan dalam rumah tangga yang toxic. Banyak wanita yang mengandalkan sumber keuangannya pada pria, dengan begitu ia pun memilih untuk diselingkuhi agar bisa bertahan hidup.