Menilik lebih jauh tentang adat dan tradisi di Sulawesi Barat memang banyak sesuatu yang unik, salah satunya tradisi Mamose. Kalau kamu orang asli dari Sulawesi Barat, pasti kamu sudah enggak asing dengan tradisi tersebut. Tapi, untuk yang tinggal jauh dari Sulawesi Barat, mungkin enggak tahu tentang tradisi ini. Benar, kan?

Mamose merupakan sebuah tradisi dari masyarakat adat Budong-budong yang tinggal di Dusun Tangkou, Desa Tabolang. Tradisi Mamose dipercaya untuk menyatukan kekuatan dan kebersaman dalam menjalani serta memperjuangkan kesehjateraan bersama. Selain itu, tradisi ini juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Awal mula munculnya tradisi Mamose dilatar belakangi oleh masyarakat Budong-budong yang datang ke suatu daerah di Mamuju Tengah untuk membuka permukiman, tepatnya di Tangkou, Desa Tabolang. Mereka membangun peradaban yang dipimpin oleh Tabora dan dibantu oleh yang lain untuk membangun kesejahteraan bersama. 

Mata pencaharian masyarakat Budong-budong didapat dengan cara bertani dan menanam padi di ladang untuk dikonsumsi sehari-hari. Lama-kelamaan, rasa kebersamaan muncul dan terbukti dengan terbangunnya gotong royong saat ingin bertani di kebu baru.

Namun, muncul perselisihan antara masyarakat Budong-budong dengan penduduk Babana yang bermukim di pantai. Mereka berselisih soal sektor pertanian, sehingga mengakibatkan peperangan.

Selain itu, perselisihan juga muncul saat Belanda datang ke Mamuju Tengah dengan tujuan menguasai wilayah Budong-budong. Mereka enggak terima dan akhirnya terjadilah peperangan yang dikenal dengan nama Benteng Kayu Mangiwang yang memakan 500 korban jiwa.