Sagu menjadi salah satu bahan makanan bagi masyarakat Indonesia bagia timur. Salah satu makanan khas dari Sulawesi Tenggara, Sinonggi juga berbahan dasar sagu.

Makanan khas suku Tolaki dari Sulawesi Tenggara ini terbuat dari pati sari sagu. Suku Tolaki secara turun temurun sudah mengonsumsi Sinonggi sebagai makanan pokok. Tradisi menyantap sinonggi ini dikenal sebagai Mosonggi. Meski serupa, makanan-makanan ini memiliki cita rasa dan teknik pembuatan yang berbeda. Melansir laman Halo KendariĀ (20/4/2021) Sinonggi dibuat dari tepung sagu yang matang tak dicampurkan dengan sayur, kuah ikan, sambal seperti makanan daerah lainnya.

Suku Tolaki mengonsumsi Sinonggi karena banyak pohon sagu yang tumbuh dengan sendirinya di perkampungan Kuko Hulu di Sungai Konaweha, yang kini bernama Latoma Tua. Dalam bahasa Tolaki, ia disebut "sowurere", yang artinya "suatu kampung yang ditumbuhi ribuan pohon sagu". Lokasinya persis di dekat Tongauna, Kecamatan Ulu Iwoi, Kabupaten Kolaka. Versi lain menyebutkan bahwa pohon sagu yang tumbuh di rawa-rawa tersebut, sebetulnya berasal dari Maluku.

Budayawan lokal mengatakan bahwa nama Sinoggi berasal dari kata posonggi bahasa Tolaki yang berarti alat mirip sumpit. Alat ini diketahui sebagai alat makan Sinonggi. Sinonggi disajikan dengan cara digulung lalu diletakan ke atas piring yang disiram kuah atau bisa langsung dikunyah.

Meski terlihat sederhana, proses pembuatan Sinonggi membutuhkan waktu yang lumayan lama. Pati sagu harus direndam air dingin selama satu malam. Setelah itu, sagu dibilas lagi dengan air dingin. Lalu dicampur air panas perlahan-lahan hingga mengental dan teksturnya seperti lem.

Baca Juga: Mengenal Agista Ariany, Istri Gubernur Sulawesi Tenggara yang Juga Miliki Klinik Kecantikan Ternama

Banyak masyarakat yang mengonsumsi Sinonggi dengan sayur, sup ikan, serta sambal. Bisa juga ditambah perasan jeruk purutĀ  serta sambal terasi atau mangga muda.