Siapa yang suka makan kol goreng? Makanan ini biasa dijadikan pelengkap saat makan pecel lele. Rasanya yang gurih dan nikmat membuat kol goreng memiliki banyak peminat.

Meskipun nikmat, ternyata kol goreng memiliki sejumlah risiko bagi kesehatan. Berikut bahaya makan kol goreng yang harus kamu waspadai.

Meningkatkan jumlah kalori

Kol mentah mengandung jumlah kalori yang rendah. Kol mentah seberat 100 gram mengandung sekitar 22 kalori. Hal ini terjadi sebab kol mengandung kadar air yang tinggi sekitar 92 persen.

Namun, kandungan itu akan berubah ketika kol digoreng. Kol akan menyerap minyak yang banyak sehingga jumlah kalori yang dikandungnya pun meningkat tinggi.

Merusak kandungan gizi

Kol segar mengandung sumber nutrisi yang baik bagi tubuh. Dalam 100 gram kol segar terdapat 2,1 gram protein, 0,5 gram lemak, dan 3.6 gram karbohidrat. Selain itu, sayuran ini juga kaya akan serat, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin K, dan berbagai macam mineral. 

Ketika menggoreng kol dengan suhu tinggi ternyata berpotensi merusak kandungan gizi yang ada, lho! Sebaiknya kol disajikan dengan cara dikukus, direbus, atau ditumis untuk menjaga kandungan gizi yang ada di dalamnya.

Meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke

Minyak untuk menggoreng yang mencapai suhu tinggi berpotensi membuat struktur kimia dalam kol berubah. Selain itu, menggoreng menggunakan minyak yangs ama berkali-kali berpotensi mengubah minyak menjadi lemak trans. Lemak trans sendiri memiliki dampak yang buruk bagi tubuh karena dapat membentuk plak yang meningkatkan lemak jahat pada tubuh. Apabila kondisi ini terus berlanjut maka dapat meningkatkan risiko terserang gangguan jantung dan stroke.

Memicu kanker

Kol segar mengandung sulphoraphane yaitu senyawa anti kanker. Senyawa ini menghambat perkembangan enzim histone deacetylase yang bertanggungjawab dalam perkembangan berbagai macam kanker. 

Kol goreng dapat memicu terbentuknya acrylamide yang dapat jadi pemicu kanker pada tubuh. Acrylamide dapat meningkatkan risiko terserang kanker rahim, ovarium, paru-paru, ginjal, dan kerongkongan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas