Memiliki perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan pernikahan. Enggak ada pasangan suami istri yang selalu adem ayem tanpa masalah sepanjang waku. Akan ada saja masalah yang hadir di dalam pernikahan hingga membuat pasangan suami istri bertengkar.

Namun, jika sudah memiliki anak harus lebih bijak ketika terlibat dalam pertengkaran. Jangan sampai anak menyaksikan pertengkaran antara orang tuanya. Meskipun pertengkaran terkadang dilakukan guna menyelesaikan masalah, itu juga dapat berdampak negatif pada psikologis anakĀ lho, terutama jika anak sering melihat pertengkaran orang tuanya.

Lantas sebenarnya apakah dampak yang akan terjadi jika anak terus melihat orang tuanya bertengkar?

Seperti disebutkan di atas, berdebat adalah bagian dari semua hubungan, tetapi permasalahannya terletak jika pertengkaran dilakukan secara anarkis. Hal-hal yang biasa terjadi saat bertengkar, seperti pemanggilan nama dan melempar benda, mengancam untuk pergi, melakukan pemukulan, dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada pasangan dapat mempengaruhi mental anak secara negatif.

Paparan yang terus berulang terhadap perilaku ini dapat menyebabkan masalah perilaku pada si kecil. Berikut adalah beberapa efek samping pertengkaran yang tidak menyenangkan pada si kecil:

1. Anak berubah menjadi sering murung dan bersikap agresif.

2. Anak akan mengalami kecemasan yang dapat memiliki gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut, dan sulit bersosialisasi untuk mendapat teman.

3. Berdebat di depan anak dapat merusak konsentrasinya, sehingga akan mempengaruhi prestasi akademiknya.

4. Anak mungkin menjadi jauh dan terpisah dari keluarga dan menemukan penghiburan di bidang lain, yang dapat berbahaya karena anak-anak sebenarnya tak bersalah.

5. Ini dapat memengaruhi hubungan anak dengan orang tua karena pertengkaran akan mengubah pandangannya terhadap pernikahan.

Baca Juga: Jangan Terlalu Percaya! Ini 3 Tanda Teman yang Berusaha Menikung Suamimu

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas