Semua ibu pasti ingin memberikan ASI kepada bayinya hingga usia 2 tahun. Namun, banyak ibu yang tak bisa memberikan ASI secara langsung karena mungkin ada beberapa permasalahan. Biasanya hal yang menghambat ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya adalah kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan, atau sibuk dengan pekerjaan.

Meski tak bisa memberikan ASI secara langsung, bukan berarti peran ibu menjadi hilang begitu saja. Di zaman sekarang, sudah banyak alat yang memudahkan ibu untuk memberikan ASI kepada si kecil. Salah satunya adalah dengan penggunaan botol.

Penggunaan botol susu atau dot mungkin masih banyak menuai pro kontra. Banyak yang berpendapat bahwa memberikan dot kepada si kecil bisa berakibat buruk pada kesehatan gigi dan mulutnya.

Enggak hanya itu, ketika menggunakan botol susu, anak bisa menjadi bingung puting dan enggan menyusui secara langsung. Tapi tenang saja, hal itu bisa diminimalisir dengan mencoba produk Peristaltic Nipple PIGEON.




Produk keluaran PT. Pigeon Indonesia ini bisa mendorong gerakan alami dari lidah bayi, dan memastikan perkembangan optimal dari bagian wajah dan otot rahang bayi. Produk ini bisa mendukung gerakan peristaltik bayi. Ini merupakan gerakan bayi saat menghisap ASI dengan menggunakan rahang bagian atasnya. Selain itu, bayi juga menggunakan lidahnya untuk menciptakan dan mengirim gerakan berdenyut dari bagian depan lidahnya hingga ke bagian belakang.

Melansir laman Pigeon.co.id (4/6/2021) keunggulan Peristaltic Nipple PIGEON ini karena super lentur. Ini merupakan faktor penting dalam sebuah Nipple untuk mendorong kemampuan menghisap bayi.

Baca Juga: Mitos atau Fakta, Susu Formula Bikin Si Kecil Obesitas?

Selain itu, silikonnya sangat lembut sehingga bayi bisa melekat dengan nyaman. Botol streamline juga memiliki leher yang lebar sehingga memudahkan ibu untuk membersihkan botol dan juga bisa mudah digenggam. Produk ini juga memiliki sistem ventilasi udara lho. Ini bisa memudahkan bayi untuk menyusu meski lewat botol atau dot.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas