Stasiun televisi Indosiar mendapatkan surat terbuka soal Sinetron Suara Hati Istri yang tengah hangat dibicarakan. Surat terbuka ini dilayangkan oleh Jaringan Anak dan Kaum Muda Melwan Perkawinan Anak (JAKMMPA) yang menuntut diberhentikannya tayangan Suara Hati Istri.

Digantinya pemeran Zahra yang sebelumnya diperankan oleh Lea Ciarachel berusia 15 tahun menjadi Hanna Kirana yang lebih tua. Namun pergantian pemeran itu dianggap tidak menyelesaikan permasalahan utama.

"Yaitu, jalan cerita yang mempromosikan perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender," bunyi surat tersebut tersebut dikutip dari berbagai sumber.

Enggak ada perubahan alur cerita yang mana disayangkan oleh JAKMMPA. Dalam surat terbuka itu dijelaskan bahwa karakter Zahra dalam Suara Hati Istri merupakan istri ketiga karakter Tirta yang masih berusia 17 tahun. 

"Karenanya, kami menyayangkan tidak adanya perubahan jalan cerita, di mana karakter anak perempuan berusia 17 tahun tergambarkan sebagai istri ketiga dari seorang laki-laki dewasa," lanjutannya.

Selain itu, dijelaskan juga bahwa alur cerita Suara Hati Istri gak sesuai dengan semangat perlindungan anak dan penghapusan perkawinan anak menurut Undang-Undang Perkawinan.

"UU Perkawinan No. 16/2019 atas perubahan UU No. 1/1974 tentang usia minimum menikah untuk perempuan adalah 19 tahun. Kedua, usia dibawah 18 tahun adalah usia anak yang dilindungi dari segala bentuk kekerasan oleh UU No. 35/2014, termasuk perkawinan anak," bunyi surat terbuka yang dilemparkan ke Indosiar itu.

Sejumlah artis dan netizen turut mengkritik sinetron ini sebab diperankan oleh anak berusia 15 tahun yang memerankan sosok istri. Ditambah banyak adegan yang menjadi sorotan dan dinilai gak pantas diperankan oleh perempuan di bawah umur.

Baca Juga: Buntut Sinetron Zahra, Lea Ciarachel Sedih Orang Tua Ikut Dibully: Mau Jawab, Takut Salah Ngomong...

KPI akhirnya meminta Indosiar untuk melakukan evaluasi pemeran dan alur cerira untuk sinetron Suara Hati Istri.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas