Lilibet Diana Mountbatten-Windsor, anak kedua dari Pangeran Harry dan Meghan Markle, baru saja lahir ke dunia. Nama anak dari Duke dan Duchess of Sussex ini ternyata memiliki fakta-fakta menarik, lho.

Lilibet Diana yang menjadi anak kedua dan anak perempuan pertama dari Meghan dan Harry, terlahir sebagai cicit ke-11 dari Ratu Elizabeth.

Berikut fakta-fakta menarik terkait kelahiran Lilibet Diana Mountbatten-Windsor, dikutip dari berbagai sumber.

1. Nama yang Unik

Lilibet Diana merupakan nama yang dipilih Meghan dan Harry sebagai bentuk penghormatan kepada dua perempuan yang dikenal Harry. Lilibet diambil dari nama panggilan kecil Ratu Elizabeth, sedangkan, Diana diambil dari nama mendiang ibunda Harry.

2. Pengumuman Kelahiran yang Ditunda

Pengumuman akan kelahiran Lilibet ditunda dua hari. Biasanya, kelahiran anggota keluarga kerajaan secara tradisi akan diumumkan secara langsung di hari yang sama dengan kelahiran sang anak. Tetapi, kali ini, Meghan dan Harry menunda hingga dua hari untuk mengumumkan kelahiran putrinya pada publik, yakni 6 Juni 2021.

3. Lahir dalam Keadaan Sehat

Lahir di rumah sakit Santa Barbara Cottage Hospital, California pada Jumat, 4 Juni 2021 pukul 11.40, Lilibet lahir dalam keadaan sehat. Ia lahir dengan selamat dan memiliki berta sekitar 3,4 kilogram.

4. Cicit Pertama dari Ratu Elizabeth yang Lahir di Amerika

Lilibet lahir di California, Amerika Serikat. Hal ini menjadikan Lilibet Diana menjadi cicit pertama Ratu Elizabeth yang tidak lahir di Inggris.

5. Pemilihan Rumah Sakit

Meghan diprediksikan akan melahirkan di Cerdas-Sinai Medical Centre, Los Angeles. Tetapi, karena letaknya yang sekitar 141 kilometer dari kediaman Harry dan Meghan di Montecito, California, pasangan ini memilih rumah sakit Santa Barbara Cottege. Hal ini dikarenakan lokasinya yang dapat ditempuh selama 10 menit dari kediaman Harry dan Meghan.

Baca Juga: Pangeran Harry Pulang ke Inggris Sendirian, di Mana Meghan Markle?

Itulah beberapa fakta di balik lahirnya anak kedua Pangeran Harry dan Meghan Markle!

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas