Diabetes tipe 2 adalah suatu kondisi yang menganggu tubuh untuk mengontrol kadar gula darah. Untuk mengontrol gula darah, penderita diabetes bisa menjalani pola hidup sehat agar berat badannya tetap ideal.

Dengan begitu, banyak yang berlomba-lomba untuk melakukan diet demi menurunkan berat badan. Salah satu diet yang sangat populer adalah diet keto.

Diet keto adalah rencana diet yang sangat rendah karbohidrat dan tinggi lemak yang menyebabkan tubuh membakar lemak bukan karbohidrat. Proses ini dikenal sebagai ketosis.

Banyak orang yang berpendapat bahwa diet keto dapat membantu seseorang nengatasi diabetes. Tapi Journal of Physiology telah menerbitkan penelitian yang mengatakan bahwa fase awal diet keto ini justru dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 lho.

Makanan yang mengandung karbohidrat, seperti roti, nasi, pasta, susu, dan buah, merupakan sumber bahan bakar utama agar tubuh bisa bekerja secara maksimal. Selain itu, tubuh juga menggunakan insulin untuk membantu membawa glukosa dari darah ke dalam sel untuk menghasilkan energi. Namun, pada pengidap diabetes, tubuh tak menghasilkan insulin atau biasanya insulin tak bekerja dengan baik.

Dengan begitu, ini bisa mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan karbohidrat secara efektif dan menyebabkan kadar gula menjadi tinggi dalam darah.

ETH Zurich bersama dengan Rumah Sakit Anak Universitas Zurich melakukan penelitian dengan memberi makan tikus diet ketogenik dan diet tinggi lemak. Setelah itu, para peneliti menguji metabolisme dan respons gulanya. 

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa diet keto menggangu kinerja insulin pada tubuh. Hal ini membuat kadar gula darah menjadi tak terkontrol dengan baik. Kondisi ini pun mengarah pada resistensi insulin yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Baca Juga: Diabetes Bisa Menyerang Ibu Hamil Lho, Bahaya untuk Janin atau Gak Ya?

"Meskipun diet ketogenik diketahui sehat, temuan kami menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko resistensi insulin dengan jenis diet ini yang dapat menyebabkan diabetes tipe 2," kata Christian Wolfrum, PhD, seorang profesor di ETH Zurich dikutip dari Healthline (10/6/2021).

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas