Setiap hubungan pasti akan ada saja masalah yang dihadapi. Namun, dengan masalah tersebut hubungan akan diuji kekuatannya. Jika tak bisa mengatasi masalah yang dihadapi, tentu satu-satunya pilihan adalah berakhir dengan perceraian.

Nah, salah satu masalah yang kerap kali menghampiri hubungan adalah perselingkuhan. Ya, sudah jadi rahasia umum bahwa perselingkuhan sangat rentan terjadi pada setiap hubungan. Apalagi jika hubungan yang sebelumnya berjalan dengan harmonis tanpa hambatan, bisa berubah secara drastis hanya dengan perselingkuhan.

Antropolog biologis, Helen Fisher beserta tim penelitinya menyebutkan bahwa cinta melibatkan sistem kerja otak yang terkait dengan hubungan ranjang dan reproduksi. Kedua sistem ini yang menjadi alasan seseorang bisa melakukan perselingkuhan.

Selain itu, ada 3 alasan seseorang berselingkuh, berdasarkan survei yang dilakukan Julia Omarzu, psikolog dari Loras College, bersama tim penelitinya meliputi:

1. Kurang perhargaan dari pasangan

Alasan pertama mengapa orang berselingkuh karena tak mendapatkan penghargaan dari pasangannya. Mereka yang berselingkuh merasa tak dihargai dan berharap bahwa pasangan mereka bisa mengakui ketika sudah bekerja keras untuk mempertahankan pernikahan tersebut.

2. Sudah Tak lagi cinta

Selain tak pernah dihargai, banyak juga yang berselingkuh karena perasaan cintanya sudah hilang. Ya, keintiman emosional dan fisik tampaknya menjadi faktor utama yang mengarah pada perselingkuhan.

3. Balas dendam

Baca Juga: 4 Makanan Ini Bisa Tingkatkan Libido, Pasangan Dijamin Makin 'Buas' di Ranjang

Nah, yang terakhir berdasarkan survei adalah perselingkuhan sebagai bentuk balas dendam. Perselingkuhan melambangkan hasrat, penderitaan, dan kebutuhan akan sebuah hubungan. Pasangan yang selingkuh bisa dilatarbelakangi karena pernah diselingkuhi sebelumnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas
Lihat Sumber Artikel di GenPI Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.