Di masa pertumbuhan, orang tua harus memperhatikan asupan makanan anaknya. Pasalnya ketika masa kanak-kanak, nutrisi yang lengkap menjadi pendukung tumbuh kembangnya.

Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil adalah dengan memberikannya asupan sayur dan buah. Tapi, sebaiknya sayur dan buah yang diberikan harus dalam bentuk utuh dan enggak dijus ya!

American Academy of Pediatrics (AAP) telah memperbarui rekomendasinya mengenai konsumsi jus buah pada anak kecil. AAP sebelumnya menyarankan orang tua untuk menghindari memberi anak-anak mereka jus buah saat usianya sudah memasuki 6 bulan, namun kini AAP mengatakan bahwa anak boleh mengonsumsi jus di usia satu tahun.

Hal ini bukan tanpa alasan, kini banyak sekali kasus obesitas global dan juga jus buah diklaim menjadi penyebab gigi berlubang. Dengan begitu, AAP menyatakan bahwa bayi tak boleh minum jus buah sampai usia satu tahun.

Jus buah telah dianggap sebagai minuman sehat. Buah adalah bagian umum dari makanan anak, dan banyak orang tua mungkin bertanya-tanya mengapa jus buah tak dapat dikonsumsi si kecil saat belum berusia satu tahun.

Ternyata salah satu masalahnya ada pada jumlah gula yang dikandungnya. Bahkan tanpa gula tambahan, gula dalam buah itu sendiri dapat menyebabkan gigi berlubang jika dikonsumsi dalam bentuk jus lho. Buah utuh (termasuk kulitnya) umumnya lebih tinggi serat, lebih mengenyangkan, dan karena itu merupakan sumber nutrisi yang lebih baik.

Kekhawatiran lain adalah bahwa jus menggantikan air, ASI dan susu formula bagi bayi yang tak menyusui. ASI dan susu formula memiliki nutrisi yang lebih unggul daripada jus dan diformulasikan secara khusus untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang tepat. Jika bayi kenyang dengan jus, mereka mungkin tak mengonsumsi cukup kalori atau nutrisi melalui ASI atau susu formula.

Baca Juga: Bukannya Nurut, Ini Dampak Buruk dari Mengancam Anak Moms!

"Bayi tak membutuhkan gula. Bahkan di atas usia 12 bulan, jus buah hanya berfungsi untuk menambahkan gula berlebih ke dalam makanan," ujar Andrew Orr, yang merupakan seorang dokter dan ahli gizi dikutip dari Belly Belly (15/6/2021).

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas