Miris memang, ketika melihat budaya membaca di Indonesia masih begitu memprihatinkan. Bahkan, sudah banyak data-data tentang literasi yang menujukkan minimnya minat membaca di Indonesia.

Seperti halnya dalam penelitian yang dilakukan oleh PISA rilisan OECD (2015), Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei. UNESCO juga menyebut, Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dalam hal literasi.

Berbicara soal literasi, erat kaitannya dengan minat membaca. Tingginya minat membaca, bisa dikatakan menjadi pondasi dasar bagi pendidikan suatu bangsa. Tingginya budaya membaca dapat membuat seseorang lebih memahami dan menguasai suatu ilmu pengetahuan.

Namun, menjadi kegagalan tersendiri bagi bangsa tersebut yang tak berhasil menciptakan sebuah generasi yang mengedepankan budaya membaca. 

Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang jurnalis wanita, Chandra Audrey. News Anchor Kompas TV ini beranggapan, literasi dan minat membaca adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

"Mungkin sebelumnya sudah ada isu mengenai literasi dan minat baca namun tidak se-booming sekarang. Ini bisa terjadi karena saat ini banyak informasi yang sudah beredar dan kita pun mungkin akan senang menyebarkannya tanpa melihat apakah hoax atau bukan," ujar Chandra Audrey dalam pembahasan "The Power of #BacaSampaiTuntas" bersama Warta Ekonomi Group, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga: The Power of #BacaSampaiTuntas VOL. 5, Budi Setyarso: Baca Sampai Tuntas Bisa Ciptakan Hal-hal Luar Biasa!

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas