Najwa Shihab lantang dan tegas menyampaikan aspirasinya soal polemik-polemik di Tanah Air terutama soal politik. Tak heran, berkat ketegasan dan kecerdasannya dalam mewawancari, ia kerap membuat nyali narasumbernya tak berkutik termasuk para pejabat dan politisi.

Sudah terkenal nyatanya tak banyak yang tahu soal kehidupan rumah tangga Najwa Shihab. Bukan tanpa alasan, hal itu karena Najwa memang sangat jarang membagikan soal kehidupan pribadinya di media sosial.

Najwa Shihab memutuskan menikah dengan Ibrahim Assegaf pada tahun 1997 di Solo. Ibrahim Assegaf sendiri merupakan sosok pria yang memiliki latar belakang tak main-main. Suami dari Najwa Shihab ini berkecimpung di bidang hukum.

Ibrahim Sjarief Assegaf fokus sebagai pengacara dalam bidang Perbankan & Keuangan, Restrukturisasi & Kepailitan, Corporate M & A. Bahkan Ibrahim Sjarief Assegaf juga pernah mendapatkan penghargaan IFLR 1000 Leading Lawyer in Financial & Corporate, Banking and M&A pada tahun 2016.

Dalam video yang diunggah oleh Sarah Sechan (8/5/2019) silam, Najwa mengatakan pernah berbohong kepada suami, ia mengaku pernah membeli barang dengan harga fantastis yang suaminya tak ketahui.

Barang tersebut adalah jam tangan mewah yang ia beli secara diam-diam.

Najwa dinikahi Ibrahim saat berusia 20 tahun dan sedang mengemban pendidikan kuliah semester tiga, sempat diledeki oleh rekan-rekannya saat menikahi Najwa, namun Ibrahim tak ambil pusing. 

Dia lalu menegaskan, kehidupannya dengan suami saat awal pernikahan seperti layak remaja yang berpacaran.

"Nggak! Karena masih kuliah, terus waktu itu dia baru masuk kerja, jadi tuh berasanya kayak pacaran tapi serumah," tegasnya anak dari ulama Quraish Shihab ini.

Baca Juga: Tersebar Tulisan Hoaks Covid-19 yang Mengatasnamakan Dirinya, Najwa Shihab Akui Capek: Ini Bukan Tulisan Saya!

Terpaut usia 6 tahun tak membuat keduanya menjadi salah tingkah ataupun miliki egois yang tinggi, keduanya mampu mempertahankan hubungan selama 24 tahun. Keduanya dikaruniai seorang anak bernama Izzat Assegaf kelahiran tahun 1997.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas