Beberapa tahun terakhir, spa bayi menjadi tren di kalangan para ibu. Tujuan dari spa bayi bukan hanya membantu anak untuk rileks dan bersenang-senang, tetapi juga dapat membantu perkembangannya.

Tapi apakah perlu melakukan spa bayi dan apakah spa bayi itu aman dilakukan?

Spa bayi atau baby spa adalah bentuk perawatan untuk bayi dari usia 6 bulan hingga lebih dari satu tahun. Umumnya spa bayi terdiri dari dua komponen terpisah. Ada hidroterapi, bayi berendam di kolam selama 20 menit dengan alat pengapung atau ban berbentuk donat khusus yang ditempatkan di leher untuk menjaga kepalanya tetap di atas air.

Setelah hidroterapi, ada pijatan yang sangat ringan untuk memanjakan bayi. Secara teori, baby spa membantu bayi meningkatkan pertumbuhan, serta bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mentalnya.

Tapi, menurut Swimming Teachers Association (STA) dan Birthlight ada potensi bahaya ketika bayi menggunakan alat pengapung atau ban di leher ketika melakukan spa. STA melaporkan bahwa penggunaan ban pada leher bisa menganggu perkembangan fisik, neurologis, dan emosional bayi.

"Ketika bayi (terutama yang berusia di bawah lima bulan) kepala hanya ditopang oleh ban saat berendam bisa menekan tulang belakang yang lembut dan halus di lehernya. Itu bisa mengakibatkan ketegangan pada ligamen dan otot bayi," ujar Francoise Freedman, pendiri Birthlight, antropolog medis dan salah satu pakar renang bayi terkemuka di dunia, dikutip dari The Asian Parent (23/6/2021).

"Perkembangan fisik pada bayi dimulai dari kepala ke bawah. Kontrol leher dan kepala adalah salah satu tonggak perkembangan pertama yang dicapai bayi dalam beberapa bulan pertama mereka, diikuti dengan berguling. Tetapi sering melakukan spa bayi, mereka berisiko mengalami keterlambatan dalam masa perkembangannya," sambung Freedman.

Freedman juga mengatakan bahwa ketika bayi di atas usia tiga bulan menggunakan ban leher, itu mungkin mengganggu proses saraf penting yang menginformasikan refleks kepala yang membantu bayi untuk duduk. Ban leher bayi juga bisa berdampak pada tulang belakang anak.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas