Nikita Mirzani ngamuk besar kepada pengacara Indra Tarigan. Ia bahkan siap penjarakan pengacara ini karena sudah hina anaknya.

Nikita Mirzani sudah membawa masalah ini sejak September 2020. Mereka melakukan mediasi kedua pada Maret 2021.

Sebelumnya, Indra Tarigan menuliskan kata-kata tak senonoh. Ungkapan tersebut dituliskannya menggunakan foto Laura Meizani Nasseru Asry atau biasa dipanggil Loli sebagai latar belakang tulisannya.

"Ini yang pertama, ‘sabar ya nak, mama lagi ngelont*,’ kedua ‘semoga nanti anak ini nggak jadi lont* kayak maminya,' ‘emaknya lagi jualan nak, sabar ya. Memang emakmu nyai lendir, haha,' tiga postingan," ujar Nikita Mirzani (16/9/2020) dikutip dari Grid.id.

Laporan dilancarkan Nikita Mirzani sebab diduga telah melakukan tindak pidana. Kasus yang dilaporkan wanita yang biasa dipanggil Nyai ini sudah masuk tahap penyidik.

"Untuk proses hukumnya udah naik proses penyidikan, artinya dugaan tindak pidana itu ada bahwa seseorang berinisial IT sudah kami laporkan dan diduga telah melakukan tindak pidana," tutur Fahmi Bachmid selaku kuasa hukum Nikita Mirzani.

Nikita marah besar dengan pengacara itu. Ia tak terima foto anaknya digunakan secara tak senonoh.

"(Maafin engga) Engga dong pakai nanya. Kenapa? Karena dia sudah posting foto anak Niki, makanya jangan foto anak mending foto gua saja. Kalau anak sampai kapan pun pasti dibela," ujar Nikita Mirzani.

Nikita Mirzani kemudian memberikan update terkait kasusnya ini. Ia menjelaskan bahwa penantian panjangnya tak sia-sia.

Penantian panjang tidak Akan sia2, segala apapun yang benar pasti Akan Di perlihatkan walapun harus menunggu lama,” tulis Nikita Mirzani.

Baca Juga: Beda dengan Hotman Paris, Nikita Mirzani Terang-terangan Bela Keluarga Ayu Ting Ting: Itu Sudah keterlaluan

“Ingat yah netizen, negara Indonesia ini tidak melihat siapa kita - apa jabatan kita. Yang salah Akan tetap salah. Dia aja lawyer katanya bisa kok Di jadikan TERSANGKA dengan barang bukti dan saksi yang cukup kuat,” sambungnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas