Menu

Benarkah Rambut Jagung Jadi Penanda Anak Kurang Gizi? Simak Ciri Lainnya!

27 Juni 2021 13:15 WIB
Benarkah Rambut Jagung Jadi Penanda Anak Kurang Gizi? Simak Ciri Lainnya!

Ilustrasi bayi dipijat (FirstCry Parenting/Edited by HerStory)

HerStory, Bogor —

Masalah anak kurang gizi pasti menjadi hal yang paling membuat orang tua khawatir. Salah satu kondisi kurang gizi yang kerap terjadi di Asia adalah kwashiorkor, di mana anak kekurangan asupan protein. Jika tidak segera ditangani dengan baik, maka kwashiorkor dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Mengutip motherandbaby, kwashiorkor bahkan bisa mengancam nyawa anak jika tidak segera ditangani, karena dapat menyebabkan gagal organ dan kematian.

Berbicara soal kurang gizi, cara utama mendiagnosisnya adalah dengan melihat apakah catatan kesehatan anak sesuai dengan grafik pertumbuhan. Jika kemajuan anak sesuai dengan parameter yang diharapkan untuk tinggi dan usia mereka, artinya tidak ada masalah ya, Moms.

Sedangkan untuk masalah rambut jagung sendiri, memang bisa menjadi tanda anak kekurangan gizi. Tapi jika disertai dengan gejala lain ya,

Dilansir dari Haibunda menurut dr. Dedi Wilson, Sp. A (K), salah satu tanda anak kurang gizi memang bisa dilihat dari kondisi rambut. Tapi harus dilihat lagi apakah rambut jagung disertai kondisi rusak atau pecah-pecah.

"Enggak (belum tentu rambut jagung itu kurang gizi). Ada manifestasi yang lain, kan rambut itu fungsinya sama seperti kulit. Kulit bisa kering, pecah-pecah, baru disusul dengan rambut kelihatan tidak bersinar, dan ujungnya pecah-pecah. Itu bisa terjadi karena kekurangan mikronutrien, yakni vitamin B," kata Dokter Dedi, Jumat (25/6/21).

Pada anak 0-12 bulan, menurutnya masih wajar jika rambut terlihat tipis. Pada dasarnya, rambut bayi baru lahir tau biasa disebut lanugo umumnya memang akan rontok. Setelah berusia setahun lebih, barulah tumbuh rambut kasar sampai anak dewasa.

"Kalau awal itu rambut bawaan lahir namanya lanugo akan rontok sendiri. Selang setahun baru tumbuh kasar. Jadi enggak ada gunanya mencukur rambut anak, karena rambut itu sebenarnya resisten yakni melindungi anak agar tidak kehilangan panas. Kalau dicukur anak justru bisa kedinginan," ujar Dedi.

Spesialis anak dr. Noor Anggrainy Retnowati mengatakan meski tumbuh kembang balita berbeda-beda namun tetap harus diperhatikan setiap bulannya. Dia mengatakan jika pertumbuhan balita tidak mengalami kenaikan maka harus segera diperbaiki.

Selain itu, keaktifan anak dalam berkegiatan juga bisa menjadi tanda bahwa anak tersebut cukup gizi atau tidak.

"Anak kurang gizi bisa dilihat anak jadi lemah, lebih malas, tidak aktif dan lebih malas," katanya.

Beberapa penyakit gizi buruk pada bayi dan balita memang beragam Moms, ada stunting yakni kondisi tinggi badan di bawah standar pada usia tertentu yang pada akhirnya meningkatkan risiko seseorang tertular penyakit yang tidak menular seperit diabetes, hipetensi, obesitas, dan lainnya.

Dua jenis gizi buruk pada anak yakni Kwashiorkor yang merupakan penyakit malnutrisi protein paling akut di dunia. Secara spesifik, kwashiorkor didefinisikan sebagai suatu kondisi kekurangan atau bahkan tidak adanya asupan protein. Gejala lain dari penyakit ini ialah perut buncit, hati membesar, rambut menipis, tekstur rambut kasar, gigi mudah rontok, dan dermatitis.

Yang kedua, Marasmus. Ini adalah kondisi di mana tubuh anak kekurangan asupan energi atau kalori dari segala bentuk zat gizi makro, termasuk karbohidrat, lemak, dan protein. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada anak di bawah usia 2 tahun.

Ciri-cirinya ialah berat badan kurang, kehilangan banyak massa otot dan jaringan lemak, pertumbuhan terhambat, kulit kering, dan rambut rapuh. Selain itu, penderita marasmus rentan juga terhadap infeksi akut seperti infeksi saluran pernapasan dan gastroenteritis, serta infeksi kronis seperti tuberkolosis.

Moms, lebih diperhatikan ya si kecil saat ada yang berbeda.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan