Beberapa tahun lalu, sosok Raeni sempat viral karena menginspirasi banyak orang. Raeni merupakan putri dari tukang becak asal Kendal, Jawa Tengah yang menjadi salah satu lulusan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Foto Raeni bersama dengan ayahnya, Mugiyono yang tengah menaiki becak saat hadir ke wisuda pada tahun 2014 itu menjadi perhatian publik. Pasalnya Raeni merupakan mahasiswa berprestasi yang bisa mengenyam pendidikan karena menerima beasiswa bidikmisi.

Dengan kecerdasannya tersebut, Raeni pun berhasil mendapatkan beasiswa untuk kembali melanjutkan pendidikan S-2 di University of Birmingham, Inggris. Setelah lulus S-2 pada tahun 2016, Raeni kembali melanjutkan program S-3 akutansi di universitas yang sama dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Berbicara terkait awal memutuskan untuk kuliah, Raeni mengaku bahwa itu merupakan masa-masa yang sulit. Banyak orang yang mengkritik keputusan Raeni karena dianggap menjadi beban orang tua yang hanya seorang tukang becak.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Raeni (@raeni_raeni)

“Banyak orang yang tanya ‘kenapa kok kuliah?’ ‘Kenapa enggak langsung kerja aja ringanin beban orang tua?’ Sempat sedih, tapi menurut saya justru pendidikan itu investasi, dengan pendidikan kita bisa mendapat pekerjaan lebih baik dan bisa memperbaiki hidup,” kata Raeni dilansir dari Okezone (2/7/2021).

Selain itu, ketika awal menginjakkan kaki di Inggris, Raeni merasa kesulitan perihal bahasa. Di awal-awal kuliah S-2 pun Raeni sempat bingung mengikuti pelajaran yang dipaparkan oleh dosennya. Namun, seiring berjalannya waktu, Raeni bisa beradaptasi dan kini ia telah memiliki gelar doktor.

Baca Juga: Inspiratif! Kisah Sukses Defia Rosmaniar, Atlet Taekwondo Peraih Emas Pertama bagi Indonesia

Meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu, dengan ketekunannya Raeni bisa membanggakan orang tuanya. Ia bahkan sudah memberangkatkan orang tuanya untuk beribadah umroh.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas