Di zaman yang serba modern, masyarakat dimanjakan dengan berbagai teknologi yang canggih. Dengan begitu, banyak kebiasaan yang sudah mulai berubah. Salah satunya adalah budaya membaca.

Membaca jadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi sehingga sangat mempengaruhi kecerdasan seseorang, Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia masih sangat minim. Padalah membaca jadi fondasi dasar bagi pendidikan suatu bangsa. Bahkan UNESCO menyebut Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dalam hal literasi membaca lho.

Kurangnya minat baca masyarakat Indonesia ini tentu sangat mengkhawatirnya. Pasalnya saat ini banyak orang menggunakan sosial media dan kurangnya minat baca bisa mempengaruhi informasi yang diserap sehingga banyak sekali hoaks yang tersebar.

Oleh sebab itu, Warta Ekonomi Group yang terdiri atas WartaEkonomi.co.id dan HerStory.co.id, mengisiasi sebuah gerakan #BacaSampaiTuntas untuk turut menggaungkan literasi di Indonesia.

Melalui gerakan #BacaSampaiTuntas, Warta Ekonomi Group mengajak masyarakat untuk membudayakan membaca informasi secara tuntas sehingga pemahaman yang diterima menjadi utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat membentengi diri dari informasi yang bersifat provokatif maupun informasi yang tidak benar.

Sebagai bagian dari campaign #BacaSampaiTuntas, Warta Ekonomi Group melakukan bincang-bincang dengan Chief Editor Kompas.com. Ia pun memberikan tanggapan  terhadap kondisi literasi dan minat baca di Indonesia yang terbilang masih sangat minim.

"Mungkin ini menjadi budaya kita dalam perjalanan atau sejarah bangsa. Budaya baca sepertinya bukan menjadi budaya yang tumbuh dan dihidupi oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat kita lebih cenderung memiliki kultur menonton dan mendengar. Semua nilai-nilai dalam kehidupan yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya itu biasanya disampaikan melalui tontonan, misalnya wayang," ujar Wisnu saat Live Instagram bersama Warta Ekonomi Group, Kamis (1/7/2021).

"Saya enggak menilai baik atau buruk dengan negara kita menempati posisi dua terbawah dalam hal kemampuan membaca, karena bisa jadi itu merupakan suatu keunggulan. Tetapi memang jika dibandingkan dengan negara lain yang kemampuan membacanya lebih tinggi, mungkin kita tertinggal. Jadi, budaya kita yang sejak awal lebih menekankan pada menonton dan mendengar itu bisa jadi alasan mengapa UNESCO dan berbagai survei lainnya menilai tradisi membaca masyarakat Indonesia kurang tinggi," sambungnya.

Baca Juga: Kerugian Orang yang Malas Baca #BacaSampaiTuntas

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas