Suka atau enggak suka, faktanya Indonesia masih berada di kelompok terbawah dalam hal literasi minat baca. Data UNESCO menunjukkan, rasio minat baca di Indonesia hanya 0,001%. Itu artinya, dari 1.000 orang di Indonesia, hanya ada 1 orang yang gemar membaca.

Pertanyaannya, kenapa sih orang orang Indonesia malas membaca? Yuk cari tahu jawabannya di bawah ini.

1. Membaca Bukan Budaya Indonesia

Jika ditilik berdasarkan kultur dan sejarahnya, masyarakat Indonesia lebih suka mendengar daripada membaca dan menulis. Hal tersebut tergambar dari salah satu budaya, yakni pertunjukkan wayang. Masyarakat dapat mengetahui cerita wayang bukan dari kegiatan membaca, melainkan dari mendengar seorang dalang yang menceritakan suatu kisah.

Bisa dikatakan, Indonesia enggak banyak memiliki kultur yang berhubungan dengan membaca dan menulis. Berbeda dengan Jepang dan Tiongkok misalnya, tradisi mereka gemar menuliskan segala sesuatu dan kemudian diteruskan secara turun menurun.

2. Lingkungan Gak Mendukung

Lingkungan berperan penting dalam membentuk kebiasaan, termasuk kebiasaan membaca. Jika lingkungan keluarga, pertemanan, hingga sekolah jauh dari budaya membaca, enggak heran jika kemudian minat membaca menjadi rendah. Untuk itu, penting lho menumbuhkan benih-benih gemar membaca mulai dari lingkungan terdekat kita.

3. Generasi Serba Instan

Baca Juga: Kerugian Orang yang Malas Baca #BacaSampaiTuntas

Generasi masyarakat saat ini sangat menyukai segala sesuatu yang instan, alias serba cepat. Alih-alih menikmati aktivitas membaca informasi, cerita, maupun buku secara tuntas, generasi baby boomers hingga generasi Z lebih memilih untuk membaca sinopsis dan tak jarang juga mencari review singkat dalam bentuk video saja. Jika demikian adanya, bagaimana nasib minat baca di masa depan? Coba deh sesekali agendakan me time dengan #BacaSampaiTuntas dan menikmati setiap kata dan kalimat dari cerita yang kamu baca.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas