Ilustrasi penyakit jantung. (pinterest/freepik)
Pengelolaan Diabetes dan Dislipidemia merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian khusus guna menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular. Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai hal ini dan segera berkonsultasi kepada dokter apabila menemukan gejala-gejala Diabetes dan Dislipidemia.
Diabetes secara dramatis akan meningkatkan berbagai risiko berbagai masalah kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit arteri perifer. Di lain pihak, pengelolaan Dislipidemia memerlukan strategi yang komprehensif yang tidak hanya mengendalikan kadar lipid namun juga faktor metabolik lainnya seperti hipertensi, diabetes dan obesitas.
Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, KEMD, Ketua Divisi Endokrin Metabolik dan Diabetes, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM menjelaskan bahwa dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), peningkatan kadar trigliserida serta penurunan High Density Lipoprotein (HDL).
Berdasarkan National Cholesterol Education Program Adult Panel III (NCEP-ATP III) seseorang dikatakan memiliki kadar lipid abnormal apabila terjadi peningkatan kolesterol total (lebih dari atau sama dengan 240 mg/dl), peningkatan kadar kolesterol LDL (lebih dari atau sama dengan160 mg/dl), kadar kolesterol trigliserida (lebih dari 200 mg/dl), atau rendahnya kadar kolesterol HDL (kurang lebi 40 mg/dl).
Profil lipid merupakan tes kolesterol yang meliputi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan Trigliserida. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur jumlah kolesterol dan trigliserida dalam darah seseorang. Pemeriksaan profil lipid rutin sangat dianjurkan pada pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner, Diabetes Mellitus, aterosklerosis pada pembuluh darah manapun, keadaan klinis yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik.
Di Indonesia, prevalensi Dislipidemia yang didefinisikan sebagai kolesterol total lebih dari atau sama dengan160 mg/dl adalah sekitar 36% (33,1% pada laki-laki dan 38,2% pada perempuan berusia lebih dari atau sama dengan 25 tahun). Pasien dengan Diabetes memiliki peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular hingga 2-4 kali lipat dan peningkatan kematian 1,5 – 3,6 kali lipat kematian akibat komplikasi penyakit ini.
"Pengelolaan Dislipidemia memerlukan strategi yang komprehensif yang tak hanya mengendalikan kadar lipid namun juga faktor metabolik lainnya seperti hipertensi, Diabetes dan obesitas. Pengobatan terdiri dari terapi non farmakologis seperti aktivitas fisik, nutirsi, penurunan berat badan, dan berhenti merokok, serta terapi farmakologis melalui obat anti lipid,” ujar Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, KEMD saat Virtual Press Conference, Kamis (12/8/2021)
Dalam keterangannya, ia juga menjabarkan bahwa aktifitas fisik yang disarankan berupa jalan cepat, bersepeda statis, atau berenang setidaknya selama 30 menit sebanyak 4 sampai 6 kali seminggu. Diet yang disarankan adalah diet rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran, ikan, dan daging tanpa lemak, serta membatasi asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol.
Makronutrien yang menurunkan kadar LDL-C seperti tanaman stanol/sterol (2 g/ hari) dan serat larut air (10-25 g /hari) juga direkomendasikan. Prinsip dasar terapi farmakologi adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Obat utama yang disarankan adalah statin. Obat lainnya, seperti asam fibrat, asam nikotinat, dan bile acid sequestrant hanya digunakan bila terdapat kontraindikasi atau keterbatasan pemakaian statin.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.