Ilustrasi anak menggunakan masker untuk menghindari Covid-19 (hackensackmeridianhealth.org/Edited by HerStory)
Virus Corona (Covid-19) dapat menyerang siapa saja tanpa batasan usia, tak terkecuali ke anak-anak. Sebagai orang tua, tentu saja Anda perlu memerhatikan gejala Covid-19 yang dialami anak-anak, ya Moms.
Dokter Spesialis Anak dan konsultan tumbuh kembang, DR. Dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K),mengatakan, berbeda dari orang dewasa, dalam kasusCovid-19 pada anak, spreading gejalanya itu lebih lebar daripada orang dewasa.
Tak hanya itu, Dr Wawan juga mengatakan, Covid-19 bisa dibilang sebagai penyakit dengan 1001 wajah karena gejala-gejala yang ditimbulkannya dapat menyerupai penyakit-penyakit lain.
"Jadi terus terang (penyakit) ini membingungkan. Pada anak, gejala penyakit Covid-19 ini totally sampe bisa gak ada gejala apapun. Tapi waktu dilakukan swab, eh dia positif. Meski mulanya disebut sebagai penyakit pernapasan, gejala yang muncul dari Covid-19 bukan hanya pilek, sesak napas dan pneumonia.Tetapi juga menyerupai gejala penyakit lain seperti mencret, muntah-muntah, ruam kulit, hingga mata merah,” tutur Dr Ahmad Suryawan, saat webinar dengan topik "Mengantisipasi Dampak Pandemi Covid-19 pada Tumbuh Kembang Si Kecil", Selasa (17/8/2021).
Meski gejala Covid-19 pada anak bisa mulai dari tak begejala, para orang tua tetap harus peka dan segera membawa anak ke RS untuk memastikannya.
“Orang tua jangan hanya menunggu. In prinsip, ada sesuatu kontak aja meski tanpa gejala itu harus diperhatikan tracing-nya. Nah preventif itu yang akan menyelamatkan kita. Meski tanpa gejala, kita harus bisa akukan langkah isolasi mandiri (isoman) baik untuk anak,” paparnya.
Ia pun mengatakan, menurut IDAI, kegiatan isoman khusus untuk anak ini terbilang unik, karena berbeda sekali perlakuannya dengan dewasa.
“Yang pasti, isoman ini disarankan bagi pasien, termasuk anak, yang positif Covid-19 dengan gejala ringan dan tidak memiliki komorbiditas atau penyakit penyerta yang dapat memperparah gejala, seperti penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, asma, atau paru-paru kronis,” ujar Dr Wawan.
Ia melanjutkan, salah satu panduan merawat anak yang kena Covid-19, maka orang tua yang merawat anak harus selalu menggunakan masker dan rajin mencuci tangan sebelum dan setelah mengurus anak. Anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tak dipakaikan masker, terutama saat tidur, karena ditakutkan dapat mengganggu jalur pernapasannya.
Kemudian, apabila ibu dan anak berbeda status (satu positif dan satu negatif) dan harus berbagi ruangan, maka jarak tempat tidur harus diatur sejauh 2 meter.
“Lalu, jangan lupa berilah selalu dukungan psikologis pada anak. Beri ia penjelasan sesuai dengan kematangan usianya mengenai kondisi isoman dan hal-hal yang harus ia lakukan agar cepat sehat,” paparnya.
Saat isoman bersama anak di rumah, kata Dr Wawan, jangan lupa untuk rajin melakukan disinfeksi ruangan. Selain itu, orang tua juga perlu mencatat kondisi kesehatan anak setiap hari (membuat logbook) seperti suhu, saturasi oksigen, gejala yang dialami (pusing, batuk pilek, mual, diare, dan lainnya). Perhatikan juga makan dan minumnya, juga vitamin dan obat yang ia harus anak konsumsi.
“Namun perlu diingat, jangan sembarang memberikan vitamin bahkan obat untuk anak. Meski bisa dibeli bebas, maka alangkah baiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter anak Anda. Tidak semua vit jadi aman dan dibutuhkan. Nah terlebih untuk kasus Covid ini seakan-akan ada ‘Indonesia Raya-nya’ sendiri kan, dapet vitamin C, Zinc, vit D jadi anak itu dijemur juga deh lama-lama. Padahal menurut ahli tumbuh kembang itu, vit D memang dari sinar matahari, tapi jam berapa dulu, berapa lama, setiap wilayah itu berbeda-beda. Jadi jangan beranggapan vit D itu akan tercukupi hanya dengan berjemur. Konsultasikan demgan dokter anak Anda. Jangan diputuskan sendiri! Itu bukan sesuatu yang bijak,” tegas Dr Wawan.
Kemudian, terkait kabar yang menyebutkan bahwa terapi cuci hidung efektif menangkal Covid-19, Dr Wawan menegaskan bahwa hal itu tak serta merta bisa mencegah Covid-19.
“Soal terapi hidung, kita harus berhati-hati, bukan kemudian dilarang, tapi kita harus tahu ditujujan untuk apa terapi tersebut. Untuk menyembuhkan, mengurangi apa, harus dikaji dulu,” ujarnya.
Selanjutnya, mengenai anggapan apakah ASI bisa lebih mempengaruhi daya tahan tubuh daripada imunisasi lengkap, terutama di saat pandemi ini, Dr Wawan pun punya jawaban menohok.
“Ingat, jangan benturkan ASI sama imunisasi, itu dua-duanya gak bisa terpisahkan. ASI itu paling superior untuk imunitas. Apakah cukup itu saja? Tentu tida, karena ternyata serangan dari dunia luar itu gak seperti yang kita bayangkan, itulah pentingnya kita butuh imunisasi atau vaksinasi juga. Contohnya begini, vrus Corona dapat menyerang siapa saja tanpa batasan usia, tak terkecuali ke anak-anak,” kata Dr Wawan.
“Jadi kalau ada yang bertanya ‘Dok anak saya gak ASI tapi saya imuniasi aja, apakah bisa melindungi? Bisa, tapi gak seefektif dari dapat ASI. Atau sebaliknya. Mau gak imunisasi, silakan, tapi suatu saat pasti akan menyesel dengan efeknya. Karena banyak penyakit-penyakit yang hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Tapi framing atau muncul utamanya itu dari ASI. Jadi paling bagus ya gabungkan.Berikan ASI sebaik dan sedini mungkin, begitu 6 bulan tambahkan MPASI seoptimal mungkin, kelola nutrisi terbaiknya, berikan stimulasi, edukasi supaya sanitasi di rumah dengan baik, dan jangn depresi waktu mengasuh anak. Sudah, itu kuncinya hidup nyaman meski dalam kondisi pandemi,” tandas Dr Wawan.
Kemudian, soal vaksinasi Covid-19 untuk anak, Dr Wawan mengatakan bahwa itu semua sudah diwacanakan. Ia pun menilai vaksinasi untuk anak ini wajib hukumnya dilakukan.
“Vaksinasi untuk anak ini sudah ada, tetapi kita perhatikan. Mengapa perlu? Karena anak dapat tertular atau bahkan menularkan! Bahkan itu bayi pun bisa menularkan ke lingkungan sekitarnya, dan dapat tertular dari sekitarnya, sehingga para orang tua harus waspada terhadap org asing yang masuk ke rmh, anak yang sekolah langsung, walaupun tanpa gejala. Dan vaksinasi ini untuk memutus rantai penularan. Maka IDAI untuk vaksinasi Covid-19 ini merekomendasikan dipercepat. Tapi saat ini mungkin masih tersedia untuk anak umur 12-17 tahun dulu. Karena ini yang udah aman, sudah ada risetnya. Kemudian untuk anak di bawah umur 12 tahun, kita tunggu dulu hasil kajiannya. Biar kita tahu dulu dosisnya segimana, dll. Syukur-syukur vaksinasi anak itu bisa diberikan barengan dengan orang tuanya, itu akan lebih baik,” terang Dr Wawan.
Terakhir, Dr Wawan pun menyarankan orang tua agar makin ketat menjaga kesehatan anak dan melakukan upaya pencegahan agar terhindari dari Covid-19. Salah satunya adalah memberikan perhatian lebih dan menghindari interaksi dengan lingkungan luar rumah.
"Mari bersama kita jaga anak Indonesia dengan penuhi hak anak untuk hidup, dan untuk sehat fisik mental demi masa depan yang lebh baik," tutup Dr Wawan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.