Ilustrasi kesehatan organ intim wanita. (pinterest/freepik)
Beser dan mengompol pada orang-orang lanjut usia atau lansia sering kali dianggap wajar. Padahal, hal itu adalah gangguan kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup.
"Mengompol atau enuresis merupakan kondisi ketika seseorang enggak bisa menahan keluarnya air kencing yang bisa terjadi ketika seseorang tertidur atau terbangun," kata Ketua PERKINA, Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD pada virtual media briefing, Kamis (19/8/2021).
Proses penuaan akan berdampak pada pengaturan sistem berkemih. Normalnya, sistem saraf parasimpatis akan melakukan stimulasi kontraksi otot-otot di kandung kemih (otot detrusor) dengan adanya reseptor muskarinik dan alpha-1. Sementara sistem saraf simpatis menghambat kontraksi dengan adanya reseptor beta-2.
Efek penuaan akan berdampak terhadap peningkatan aktivitas otot detrusor, penurunan sensasi ingin berkemih, serta kekuatan otot sfingter di saluran kemih.
Peningkatan aktivitas otot detrusor dapat disebabkan oleh keadaan hiperrefleks, seperti riwayat stroke, parkinson, demensia, serta instabilitas akibat proses penuaan, obstruksi, batu kandung kemih, atau pembesaran prostat.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD, KGer, M.Epid, Divisi Geriati Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM menjelaskan perbedaan antara beser dan mengompol.
"Beser merupakan sebuah gangguan fungsi berkemih yang mengakibatkan rasa ingin segera berkemih. Lebih lanjut, beser bisa menjadi salah satu jenis inkontinesia. Sementara, ngompol atau enuresis atau inkontinesia adalah kondisi ketika seseorang enggak bisa menahan keluarnya kencing tanpa dikehendaki," jelasnya.
Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD, KGer, M.Epid, juga menjelaskan bahwa terdapat empat jenis inkontinesia yang sering kita jumpai. Berikut ulasannya, simak baik-baik, ya!
Jenis inkontinesia ini merupakan salah satu yang paling banyak dijumpai dengan prevalensi di Indonesia secara umum adalah 4gan lansia sebesar 4,8%.
Tipe ini yang paling banyak dijumpai pada populasi lansia (9,4%) dibandingkan umum (4,1%) dengan persentase laki-laki lansia tertinggi (11,2%).
Inkontinesia Campuran dengan prevalensi di Indonesia pada populasi umum sebesar 1,5gan lansia sebesar 4%.
Tipe ini ditemui pada pria karena berkaitan dengan obstruksi saluran kemih yang disebabkan oleh pembesaran prostat ataupun batu. Prevalensi di Indonesia secara umum sebesar 0,4gan lansia juga sebesar 0,4%.
Beberapa penyebab inkontinesia dapat diperbaiki tanpa obat-obatan sehingga enggak perlu terlalu buru-buru dalam memberikan obat bagi pasien inkontinesia.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.