Kebanyakan orang pasti menginginkan keluarga yang harmonis, yang bisa saling mendukung dan menyemangati satu dengan yang lain. Tapi sayangnya, tak semua orang mendapatkan hal tersebut. Ada beberapa orang kurang beruntung dan harus dihadapkan dengan keluarga broken home.

Konselor, Jovita Trikomandito C.Ht, S.Pd, Kons, menuturkan, broken home umumnya terjadi akibat dari pola asuh dan panutan yang dialami atau disaksikan dari orang tua seseorang di masa kecilnya. Sehingga membentuk pemahaman yang keliru tentang makna pernikahan, tugas dan tanggung jawab orang tua.

“Menurut pengalaman saya di ruang praktek konseling, saya melihat ada beberapa tipe keluarga yang rentan membentuk keluarga broken home, antara lain orang tua yang abusive (melakukan kekerasan) baik verbal maupun fisik terhadap istri maupun anak-anaknya. Jadi, dia terbiasa menghukum dan mengancam bila tidak sesuai dengan kehendak,” papar Jovita kepada HerStory, belum lama ini.

Kemudian, kata Jovita, tipe keluarga lainnya yang bisa membentuk anak broken home adalah keluarga yang menerapkan pola asuh yang otoriter dan kerap berkonfrontasi dengan pasangan dan anak-anaknya tanpa mempertimbangkan keinginan anggota keluarga.

“Lalu, adalah keluarga yang terjerat dan kecanduan narkoba, judi, minuman keras dan seks. Ataupun mereka yang erlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu untuk keluarga. Bukan tak mungkin, pola asuh keluarga tersebut bisa membentuk anak broken home,” tandas Jovita.

Jovita melanjutkan, perceraian, apapun embel-embelnya tetap saja mengakibatkan dampak buruk terhadap pertumbuhan jiwa anak. Anak bisa saja mengalami kesedihan yang berlarut-larut, yang berpotensi menurunkan produktivitasnya karena kehilangan motivasi dan penyemangat.

“Mereka pasti merasa kehilangan keutuhan keluarga. Nah, apabila pernikahan tak dapat diselamatkan dan perceraian menjadi satu satunya solusi, maka hendaknya orang tua menyadari bahwa ada masalah penting yang harus diprioritaskan untuk mengurangi dampak negatif terhadap perkembangan jiwa buah hati mereka,” terang Jovita

“Oleh karena itu menjadi tugas utama para konselor pernikahan untuk mengingatkan dan menyadarkan pasangan suami istri untuk bertahan dan menyelamatkan perkawinan mereka semata-mata dalam upaya melindungi tumbuh kembang jiwa buah hati mereka,” tutup Jovita.

Baca Juga: 3 Jenis Sihir dalam Rumah Tangga yang Mengancam Keretakkan, Astagfirullah...

Nah Moms, menjaga keharmonisan rumah tangga memang bukan hal yang mudah, ya. Terlebih jika Moms atau suami punya riwayat keluarga broken home pula. Maka alangkah baiknya, Moms dan suami harus berusaha untuk tak mengulang siklus yang sama pada anak, ya! Semoga informasinya bermanfaat!