Psikolog yang juga pegiat pendidikan di Indonesia, Najelaa Shihab, menyarankan orang tua untuk tak selalu menjadikan pemberian hadiah sebuah kebiasaan.

Najelaa bilang, reward atau hadiah apapun bentuknya, tidak mendukung kemandirian anak, malah membuatnya tergantung. Menurutnya, dukungan lebih baik ketimbang hadiah.

“Disiplin positif diterapkan dengan cara memberikan dukungan. Orang tua perlu paham perbedaannya,” tulis Najelaa dalam bukunya yang berjudul Keluarga Kita Mencintai dengan Lebih Baik, dikutip dari laman parentalk.id, Senin (30/8/2021).

Menurut Pendiri Sekolah Cikal itu, perbedaan antara hadiah dan dukungan adalah hadiah dijanjikan sebelum perilaku untuk mengontrol/memanipulasi anak, sedangkan dukungan bersifat spontan dan mengekspresikan perasaan orang tua.

Ia melanjutkan, dukungan menciptakan kenikmatan yang berhubungan dengan diri anak (internal), sementara hadiah membuat anak fokus pada faktor di luar dirinya.

“Hadiah diukur dan ditetapkan orang tua. Dukungan disesuaikan dengan tingkat antusiasme anak. Dan, hadiah diberikan saat anak sukses, sementara dukungan diberikan dalam berbagai situasi, termasuk kesulitan,” papar Najeela.

Adapun sebenarnya, pengkategorian ini berbeda dari pendapat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat pada artikel sebelumnya yang mengklasifikasikan dukungan sebagai bagian dari hadiah.

“Banyak juga yang mengatakan bahwa reward dibutuhkan di tahap awal dan usia dini karena anak membutuhkan pengalaman belajar yang konkret. Perlu dipahami bahwa dukungan sudah cukup untuk anak karena melibatkan emosi dan emosi adalah hal yang konkret dirasakan,” terang kakak kandung presenter dan Jurnalis, Najwa Shihab, itu.