ilustrasi wanita menderita miom saat hamil (Freepik/yanalya)
Selama kehamilan, seorang wanita akan rentan terhadap penyakit. Nah, salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai saat hamil adalah adanya miom.Miom atau dikenal juga dengan nama mioma merupakan istilah medis untuk tumor jinak pada dinding rahim.
Tak hanya miom, menurut Dokter spesialis Kebidanan dan kandungan konsultan onkologi di RS Kanker Dharmais, dr. Muhammad Yusuf, SpOG (K) Onk, wanita yang sedang hamil pun rentan terkena kanker.
“Karena kita tahu sendiri bahwa kanker itu gak memilih siapa dan usia-usia tertentu, mulai dari bayi sampai usia tua, mulai laki-laki sampai wanita itu berpotensi untuk menderita kanker. Kebetulan saya sebagai dokter kandungan yang mengkhususkan pada bidang onkologi, bidang kanker pada wanita sering juga mendapatkan kasus ini. Terutama dari top five kanker yang bisa diidap oleh wanita, itu kanker ovarium, serviks, yang mana pasien-pasien itu pada umumnya dia gak tau dia hamil, namun di saat bersamaan dia menderita kanker,” tutur dr.Yusuf, saat sesi Instagram Live, sebagaimana dipantau HerStory, belum lama ini.
dr. Yusuf menegaskan bahwa miom yang diidap wanita hamil tak akan mengganggu kesehatan janinnya. Karena kata dia, walaupun dalam satu rahim yang sama, miom tak akan mempengaruhi janin baik dari sisi aspek kecacatan, atau pertumbuhan dari janinnya itu sendiri.
“Itu sangat tak mengganggu. Karena janin itu dapat makanan suplainya dari ibunya melalui plasenta,” paparnya.
Namun kata dr. Yusuf, problem-nya justru tergantung dari letak miomnya sendiri. Jika miomnya dekat dengan area jalan lahir, mungkin posisi janin yang akan berubah karena akan terhambat.
“Tapi kalau posisinya di atas, tidak dekat dengan area jalan lahir, itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Itu yang pertama yang terkait dengan miom,” ujarnya.
Berbicara soal pemicu miom pada ibu hamil, kata dr. Yusuf, penyebab kemunculan miom masih belum diketahui, tapi ada kaitannya dengan hormon estrogen (hormon reproduksi yang dihasilkan oleh ovarium). Biasanya miom muncul pada usia sekitar 16-50 tahun, saat kadar estrogen dalam tubuh wanita sedang tinggi-tinggnya. Setelah mengalami menopause, miom akan menyusut karena penurunan kadar estrogen.
“Peningkatan produksi hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh saat hamil dapat pula memicu pertumbuhan miom baru dan mempercepat pertumbuhan miom yang sudah ada sebelumnya," ujarnya.
Ia pun mengatakan, mayoritas miom ini memang sudah ada sebelum kehamilan itu sendiri, jadi bukan kehamilan itu yang mengakibatkan munculnya tumor ini.
“Memang ketemunya saat kehamilan, karena pasien biasanya baru check up ke dokter pada saat telat datang bulan. Sebenarnya itu bs jadi sudah ada jauh-jauh hari, cuma baru terdeteksi saat si pasien memeriksakan kehamilannya. Itulah yang menjadi problem, karena pasein yang hamil ini mengeluh ada sakit. Jadi sebaiknya, jangan datag ke dokter itu dengan mind set buat visit saja, tapi buat medical check up. Ini jadi challenging buat kita juga dengan adanya problem ini. Dimana tugas saya juga untuk tetap memberikan edukasi terus agar masyarakat lebih aware terhadap penyakit ini,” jelas dr. Yusuf.
dr. Yusuf mengatakan, jika dari hasil pemeriksaan USG ditemukan miom saat hamil, dokter akan mempertimbangkan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasein. Akan tetapi, kata dia, kebanyakan miom tak menimbulkan gejala dan tak mengganggu kehamilan, sehingga tak diperlukan penanganan khusus.
“Perlakuan khusus tidak ada. Jadi ibu-ibu kalau misalkan ada yang lagi hamil memiliki miom, tumor atau kista, tak ada perbedaan perlakukan. Jadi kita tetap menyarankan untuk melakukan control visit, misal 4 minggu sekali, untuk evaluasi kesehatan janinnya,” ujarnya.
“Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah soal adanya keluhan atau tidak. Apabila si ibu mengalami keluhan yang luar biasa, dia harus datang lebih dini, kalau saya sendiri ke pasien itu biasa memberikan kontak, agar kita bisa memfollow-up pasien terkait kondisinya. Terlebih bagi pasien yang memiliki risiko seperti ini,” sambungnya.
Lantas, apa saja sih gejala miom itu?
Dikatakan dr. Yusuf, sebagian wanita pernah memiliki miom dalam hidup mereka. Namun terkadang kondisi ini tak diketahui oleh mereka yang mengalami karena tak memunculkan gejala, dan biasanya baru diketahui saat pemeriksaan USG ketika hamil.
“Untuk gejalanya, pertama tentunya dokter bisa melihat dari apa yang dirasakan pasiennya. Jika pasien kondisinya terpuntir, jika di pegang perutnya sedikit saja dia mengeluh kesakitan atau istilahnya rangsangan peritoniumnya itu sangat tinggi sehingga saat dipegang perutnya tegang, kemudian pasien tak bisa berjalan lagi, itu berarti ada kemungkinan sudah terpuntir,” tuturnya.
“Biasanya dengan kondisi seperti itu, kita harus melakukan operasi emergency. Jadi kita angkat, kita buang. Tapi kalau tidak terpuntir, kita kan tunggu sampai persalinan itu terjadi. Nah, kalau misalkan setelah persalinan biasanya kalau kistanya memang abnormal, itu memang tidak bisa mengecil sendiri. Karena kalau kista yang di atas 8 cm itu kita tidak mengharapkan dia untuk mengecil sendiri. Mungkin kita akan lakukan special treatment ke depannya ketika selesai persalinan,” pungkasnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.