Menu

Miom Saat Hamil, Seberapa Bahayakah? Begini Penjelasan Dokter

20 September 2021 12:05 WIB
Miom Saat Hamil, Seberapa Bahayakah? Begini Penjelasan Dokter

Ibu hamil. (Freepik/lookstudio)

HerStory, Bogor —

Moms, apakah kamu pernah tahu sebelumnya mengenai Miom? Miom dikenal juga dengan nama mioma merupakan istilah medis untuk tumor jinak pada dinding rahim.

Miom saat hamil merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang kerap dialami dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri pada ibu hamil. Namun, banyak wanita yang tak menyadari ada miom di rahimnya. Pasalnya, masalah kesehatan ini tak memiliki gejala yang spesifik.

Pernyataan itupun dibenarkan oleh Dokter spesialis Kebidanan dan kandungan konsultan onkologi di RS Kanker Dharmais, dr. Muhammad Yusuf, SpOG (K) Onk. Kata dr. Yusuf, begitu ia karib disapa, saat menjalani masa kehamilan, banyak kasus yang baru diketahui terdapat miom ketika melakukan pemeriksaan USG. Miom yang baru diketahui saat hamil, umumnya sel tumor tersebut sudah berkembang sebelum kehamilan dimulai. 

“Memang ketemunya saat kehamilan, karena pasien biasanya baru check up ke dokter pada saat telat datang bulan. Sebenarnya itu bisa jadi sudah ada jauh-jauh hari, cuma baru terdeteksi saat si pasien memeriksakan kehamilannya,” papar dr. Yusuf, saat sesi Instagram Live, sebagaimana dipantau HerStory, belum lama ini.

dr. Yusuf melanjutkan, gejala miom sendiri terkadang tak diketahui oleh banyak wanita, termasuk ibu hamil karena tak merasakan gejala apapun. Ini semua tergantung dari ukuran, jenis, jumlah dan letak tumbuhnya miom.

Namun kata dia, miom yang terjadi selama masa kehamilan dapat meningkatkan komplikasi seperti rasa nyeri di bagian perut atau perdarahan ringan dari vagina. Tapi, bila kondisi miom tak terlalu mengkhawatirkan berarti kondisi janin dalam keadaan normal. 

“Secara umum, miom pada ibu hamil tak akan mengganggu kesehatan janinnya. Karena walaupun dalam satu rahim yang sama, miom tak akan mempengaruhi janin baik dari sisi aspek kecacatan, atau pertumbuhan dari janinnya itu sendiri. Jadi itu gak akan mengganggu. Karena janin itu dapat makanan suplainya dari ibunya melalui plasenta,” paparnya.

Kata dr. Yusuf, miom dipicu oleh faktor hormonal, jika wanita hamil memiliki kadar hormon estrogen yang sangat tinggi, miom ini dapat berkembang secara cepat. Hormon ini akan berangsur menurun sejalannya dengan usia yang semakin bertambah.

“Miom itu istilahnya ‘pupuk’ kenapa dia bisa bertumbuh, pertama ya karena pengaruh hormon yang dimiliki wanita. Selama wanita itu masih mengalami menstruasi, maka miomnya punya potensi untuk tetap tumbuh,” imbuhnya.

dr. Yusuf bilang, bila miom tak menimbulkan gejala yang menganggu selama kehamilan, maka tak terlalu memerlukan pengobatan khusus. Namun, perlu tetap berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dan kata dia, salah satu cara untuk menghilangkan miom dalam rahim bila diperlukan yaitu dengan melakukan tindakan operasi. 

Dikatakan dr. Yusuf, miom pada wanita termasuk masalah kesehatan yang lazim. Penyebab miom yang pasti hingga kini belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan peluang wanita terkena miom, antara lainfaktor keturunan, kegemukan, kebiasaan makan daging merah, daging olahan dan berpengawet,jarang makan sayur dan buah.

“Sebagian besar faktor risiko yang bisa menyebabkan miom tersebut bisa dikontrol. Untuk mencegah miom, wanita perlu menjaga berat badannya tetap ideal, mengonsumsi daging merah tidak berlebihan, tak makan daging olahan dan makanan olahan, serta rajin makan sayur dan buah. Hal yang tak kalah penting, pastikan wanita melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala. Terutama jika memiliki keluarga yang pernah terkena miom,” pungkasnya.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan