Hampir dua tahun sudah kita berada di tengah pandemi Covid-19. Kondisi ini memaksa kita untuk terus berada di rumah dan tak keluar jika tak penting. Secara tak langsung kita juga jadi lebih sering berkumpul dan berinteraksi dengan keluarga.

Akan tetapi, terus menerus berada dalam satu tempat bersama keluarga mungkin juga berpotensi menimbulkan konflik, tak terkecuali konflik antara ibu dan anak tentunya.

Psikolog anak dan keluarga, Samanta Elsener, M.Psi., pun menyoroti hal tersebut. Kata dia, kesulitan atau tantangan yang dihadapi orang tua di masa pandemi ini sangat banyak sekali. Meski di rumah saja tapi tak sedikit orang tua, khususnya ibu, yang merasa bahwa kedekatannya dengan anak justru tak efektif.

“Ya, tantangan seorang ibu di masa pandemi ini banyak sekali. Meski di rumah aja, tapi banyak ibu yang merasa kok gak efektif ya kedekatannya dengan anak sendiri, malah terhambat. Yang tadinya quality time-nya bisa utuh, sekarang dia ngerjain semuanya. Pengaturan waktu si ibu jadi serba terbengkalai, akhirnya mereka gak punya waktu optimal untuk main, untuk menjaga kebahagiaan atau bonding sama anak, justru jadi sering marah-marah sama anak,” papar Samanta, saat sesi BincangShopee 10.10 Brands Festival: Rahasia Kebahagiaan Ibu & Anak di Tengah Pandemi, sebagaimana dipantau HerStory, Selasa (21/9/2021).

Samanta pun membeberkan, bahwa menurut survei di tahun lalu, masalah ibu dan anak itu 95 persen meningkat selama pandemi.

“Jadi kebayang ya bagi ibu-ibu yang di rumah, baik itu Ibu Rumah Tangga atau dia kerja juga, tapi segala macam dia urusin, berbagi multiperan. Itu rasanya jadi serba campur aduk. Akhirnya membuat tingkat kondisi ibusemakin lama semakin menurun. Padahal harusnya ibu itu bahagia supaya dia bisa optimal. Soalnya kan ibu itu ‘tiang penyangga rumah’, jadi kalau ibunya kenapa-kenapa, satu rumah akan terpengaruh,” beber Samanta.

Samanta juga bilang, hampir setiap ibu pernah mengalami stres saat menghadapi anak. Namun, kondisi ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena sebagai orang tua, ada baiknya ibu bisa mengelola stress agar ia tak‘melampiaskan’ ke anak.

“Karena kita berada dalam kondisi tidak pasti, kita selalu kepancing ikutan teriak ke anak, nah ketika teriak, itu jadi satu pola kebiasaan di rumah, akhirnya jadi teriak-teriakan dan itu otomatis akan menurunkan fungsi konsentrasi anak, merenggangkan kedekatan ibu dan anak, membuat rumah jadi gak kondusif,” terangnya.

Lantas, gimana biar ibu dan anak bisa selalu harmonis?

Kata Samanta, untuk menciptakan suasana yang harmonis dengan anak, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan melibatkan anak dengan aktivitas kita di rumah.

“Ajak anak lakukan pekerjaan domestik. Seperti menyiapkan bajunya sendiri, merapikan mainannya sendiri, membersihkan rumah, Itu hal-hal kecil yang bisa diterapkan ke anak. Anak-anak itu seneng lho dilibatkan dalam kegiatan orang dewasa.Karena di periode usia ini ada yang namanya perubahan psikososial anak dia akan melatih dirinya agar mandiri. Kalau kita mendelegasikan suatu tugas ke anak, itu anak seneng. Anak-anak bakal relatif merasa dipercaya, dan itu menambah kedekatan antara ibu dan anak,” papar Samanta.

Samanta melanjutkan, jika orang tua selalu waswas dan khawatir terhadap anaknya, maka tanpa sadar itu tertuang dalam ucapan dan akan membuat anak ‘terkejut’ karena dilarang-larang. Dan ketika anak mudah ‘terkejut’, maka pola kedekatan anak dan orang tua tak lagi menjadi pola yang aman.

Baca Juga: Trik Jitu Lindungi Anak Remaja dari Seks Pranikah, Camkan Baik-baik Moms!

“Padahal anak-anak itu sangat mbutuhkan pola kedekatan secure atau aman. Kenapa? Karena ketika rasa aman terbentuk, anak merasakan kasih sayang dari orang tua dan meningkatkan produksi hormon oksitoksin alias hormon kasih sayang. Di situ hubungan anak dan orang tua akan selalu sehat dan dekat. Sekalipun cuma di rumah aja,” pungkas Samanta.