Semua anak pasti senang diberi reward atau hadiah dari orang tuanya. Bentuk reward itu bisa bermacam-macam, dapat berupa makanan, mainan, ataupun hal lainnya yang disukai anak. Namun, apakah kebiasaan memberi reward kepada anak akan berpengaruh terhadap perkembangan emosionalnya?

Terkait hal itu, Psikolog anak dan keluarga, Samanta Elsener, M.Psi., mengatakan, sebenarnya tak masalah memberikan reward untuk anak, namun alangkah baiknya orang tua memberikan reward untuk memotivasi anak.

Samanta juga menegaskan, sebelum memberikan reward ke anak, orang tua harus terlebih dulu mengetahui lima bahasa cinta anak. Adapun, lima bahasa cinta anak itu terdiri dari sentuhan fisik, kata-kata pendukung atau pujian, pelayanan atau tindakan, waktu bersama, dan pemberian hadiah.

Kata Samanta, umumnya, setiap anak bisa menerima cinta melalui kelima bahasa tersebut. Namun, biasanya, ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak, di mana ia dapat merasakan cinta melebihi bahasa lain.

Karenanya, orang tua harus pandai mengidentifikasi dan menemukan bahasa cinta yang dominan pada anak sebelum memberikannya reward atas usaha atau keberhasilannya melakukan sesuatu.

“Kalau kita akan memberikan sistem reward ke anak, kita perlu tahu sistemnya seperti apa dulu. Sebelumnya kita harus tahu lima bahasa cinta yang dimiliki oleh anak. Karena kalau anaknya suka dipeluk-peluk, tapi kita kasih reward hadiah, nah itu gak sesuai jadinya. Atau kalau anak sukanya main, tapi kita kasih reward cuma pelukan, itu juga gak sesuai. Jadi pastikan kita memberikan reward yang sesuai dengan bahasa kasih anak,” papar Samanta, saat sesi BincangShopee 10.10 Brands Festival: Rahasia Kebahagiaan Ibu & Anak di Tengah Pandemi, sebagaimana dipantau HerStory, kemarin.

Dikatakan Samanta, apapun dari kelima bahasa cinta anak tersebut, jika anak masih di bawah usia 8 tahun, maka orang tua wajib memberikan kelima-limanya dengan porsi seimbang.

Lebih jauh, Samanta pun menyarankan orang tua agar memberikan reward yang bermanfaat untuk anak dan harus memastikan si anak memaknai reward dengan baik pula.

Selain itu, reward pun tak harus dalam bentuk barang yang bernilai tinggi. Memberikan pujian atas sebuah capaian yang dilakukan anak juga dapat menjadi salah satu bentuk penghargaan yang dapat diberikan orang tua kepada anak. 

“Sejatinya, reward itu kan gak harus barang mahal, memasakkan makanan favorit anak, mengajak anak jalan-jalan, quality time, juga bisa jadi reward. Jadi jangan selalu berpikir kalau reward itu bentuknya materi," tutur Samanta.

“Yang lebih penting untuk orang tua, fokuslah pada bahasa cinta jenis apa saja yang paling disukai si anak. Kenali dan terapkan. Dengan bahasa cinta antara orang tua dan anak yang sejalan, maka hubungan yang terbangun akan semakin kuat,” sambung Samanta.

Selain itu, Samanta juga bilang, tak hanya penghargaan, dalam mendidik anak, orang tua juga tak dilarang untuk memberikan hukuman (punishment) atau konsekuensi jika anak melakukan kesalahan.  

Namun yang perlu diingat, hukuman atau konsekuensi juga harus diberikan sesuai porsi dan kebutuhan sang anak.

Baca Juga: Trik Jitu Lindungi Anak Remaja dari Seks Pranikah, Camkan Baik-baik Moms!

"Soal memberikan anak hukuman, wajar-wajar aja, tapi ingat juga jangan memberikan hukuman yg membuat anak trauma," pungkas Samanta.