Moms, pernahkah kamu mendengar tentang seks BDSM? BDSM merupakan singkatan dari empat kata, yaitu Bondage/Discipline, Dominance/Submission, Sadism, dan Machosism.

BDSM sendiri merupakan ragam kegiatan seksual yang memang sedikit brutal, seperti salah satu pihak terikat dengan tali atau tertahan dengan borgol untuk rangsangan seksual.

Nah, bagi sebagian orang, aktivitas seks ini sering dianggap tabu, menyimpang, bahkan disebut sebagai masalah gangguan kesehatan jiwa bagi sebagian orang.

Namun, menurut Journal of Sexual Medicine, seks BDSM ini dianggap normal apabila disepakati oleh suami istri.

Menurut pemaparan dr. Sara Elise Wijono MRes di laman Klik Dokter, seks BDSM ini juga diklaim memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti:

1. Meningkatkan Keintiman Pasangan

Berdasarkan jurnal Archives of Sexual Behavior, manfaat dari seks BDSM ini yakni dapat menambah kedekatan serta keintiman.

Sebab, saat aktivitas BDSM terjadi, pasangan suami istri secara tak sadar lebih memahami perasaan dan keinginan pasangan. Tentunya, hal ini juga dapat mengurangi produksi hormon stres atau kortisol.

2. Meningkatkan Kesehatan Mental

Menurut Journal of Sexual Medicine, pasangan yang melakukan BDSM juga cenderung punya kesehatan mental atau jiwa yang lebih baik dibandingkan pasangan yang melakukan seks biasa.

Biasanya, pasangan yang melakukan BDSM ini cenderung open minded, peka terhadap sekitar, serta merasa nyaman dengan hubungannya.

3. Mengurangi Rasa Cemas 

Tak hanya itu, pasangan yang melakukan BDSM cenderung tak mengalami kecemasan. Hal ini karena pasangan tersebut merasakan kenikmatan saat menyakiti ataupun disakiti.

Aktivitas seks ini juga memengaruhi aliran darah, lho. Khususnya ke bagian otak yang mengatur cara berperilaku (prefrontal cortex) dan bagian yang berhubungan dengan emosi (limbic system). Anda akan merasa tenang ketika aliran darah mencapai kedua bagian otak tersebut.

4. Terbuka untuk Pengalaman Baru

Salah satu survei menuturkan, mereka yang melakukan seks BDSM memiliki sifat terbuka untuk pengalaman baru. Sifat terbuka ini merupakan salah satu bagian dari kepribadian dasar yang berhubungan dengan penerimaan terhadap ide atau pengalaman baru.

5. Conscientiousness

Survei yang sama juga mengatakan, pasangan yang melakukan BDSM memiliki nilai kepribadian conscientiousness atau kesadaran yang lebih tinggi.

Meski aktivitas BDSM sering dianggap menabrak aturan ‘normal’, namun pelakunya akan sangat patuh pada batasan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Biasanya, selama menjalani seks BDSM, mereka akan mengikuti batasan dan aturan yang sudah disepakati, sehingga kegiatan ini saling menyenangkan untuk keduanya.

Nah, meski diyakini punya manfaat positif, bukan berarti kamu harus melakukannya, ya Moms. Ingat, aktivitas ini adalah suatu preferensi dan tak semua orang menyukainya.

Dan ingat, apabila BDSM menimbulkan masalah baik secara klinis maupun kelainan dalam fungsi sosial, maka aktivitas seks ini perlu dipertimbangkan sebagai kelainan mental. Jika kamu menjadi 'korban' aktivitas seks ini, disarankan segera mencari pertolongan profesional, ya!

Semoga informasinya bermanfaat!