Menu

Sering Dianggap Sama, Apa Perbedaan Psikiater dan Psikolog?

24 September 2021 14:30 WIB
Sering Dianggap Sama, Apa Perbedaan Psikiater dan Psikolog?

Mantan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI sekaligus inisiator pembentukan UU Kesehatan Jiwa, yang juga seorang Psikiater, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ (Instagram/@true_noriyu)

HerStory, Bogor —

Saat seseorang mengalami gangguan mental atau jiwa, banyak yang menyarankan mereka untuk menemui professional seperti Psikolog atau Psikiater.

Namun, tahukah kamu, Beauty, bahwa ada perbedaan antara Psikolog atau Psikiater yang perlu kamu tahu. Meskipun kedua profesi ini berkaitan dengan kesehatan jiwa, tetapi ada perbedaan mendasarinya, lho.

Mantan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI sekaligus inisiator pembentukan UU Kesehatan Jiwa, yang juga seorang Psikiater, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ., mengatakan, Psikiater dan Psikolog jelas berbeda. Psikiater adalah dokter spesialis ilmu kesehatan jiwa yang artinya memang latar belakangnya adalah dokter yang bisa melakukan treatment kepada pasien, seperti dokter pada umumnya.

Kata Nova, Psikiater sendiri diperbolehkan dan bertanggung jawab untuk mendiagnosis gangguan jiwa seorang pasien dan menentukan pengobatan yang dilakukan. Hal ini karena keahlian mereka difokuskan pada ketidakseimbangan kimia di dalam otak manusia. Oleh sebabnya, Psikiater bisa memberikan resep dan terapi obat-obatan (farmakoterapi), terapi stimulasi otak, pemeriksaan fisik dan laboratorium sesuai dengan kebutuhan para pasien.

Kan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) itu gak semua kondisi fisiknya sehat. Tapi ada juga yang lansia, komorbidtasnya banyak. Diberi obat harus hati-hati. Nah itu Psikiater yang menangani. Begitu juga kepada remaja, dosisnya obatnya harus bagaimana, pemberian obatnya apa saja, apakah ini sudah waktunya kita memberikan obat itu pada pasien. Nah itu adalah bagian dari Psikiater. Jadi memang perspektif ilmunya adalah ilmu kedokteran. Sehingga otomatis, skill atau keahlian Psikater sama dengan dokter karena dia lulusnya dokter umum dulu. Baru bisa ambil spesialis kesehatan jiwa. Jadi treatment-nya dia bisa lebih holistic sebenarnya kepada pasien, tak hanya menangani kondisi kejiwaannya tetapi dia mumpuni untuk menangani juga kondisi fisik dari si pasien. Dia bisa memberikan psikofarmaka (obat-obatan untuk gangguan jiwa), tapi juga bisa memberikan psikoterapi. Psikoterapi macem-macem bentuknya, misalnya kognitif behaviopur terapy, kemudian psikoterapi yang suportif, dan terapi keluarga” jelas Nova, kepada HerStory, belum laman ini.

Sementara itu, kata Nova, Psikolog adalah seseorang yang mengenyam pendidikan social sience berbasis Psikologi, bukan di bidang Kedokteran. Biasanya setelah lulus, mereka akan melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu program profesi untuk mempelajari secara langsung dan mempraktikan kerja Psikolog.

“Kalau Psikolog kan basic ilmunya social science. Kaca matanya ilmu sosial. Kecuali dia kemudian mengambil lebih dalam untuk menjadi seorang psikolog klinis. Itu sudah masuk ke dalam tenaga kesehatan juga kalau menurut UU tenaga kesehatan,” terangnya.

Lantas bagaimana cara menentukan seseorang harus berobat ke Psikolog atau ke Psikiater untuk menangani masalah kesehatan jiwanya?

Nova melanjutkan, jika seseorang merasa mengalami gangguan kesehatan jiwa, sebetulnya tak perlu malu untuk mencari bantuan. Seperti hal yang penyakit fisik, penyakit kejiwaan juga memerlukan penanganan tepat.

“Jika kamu merasakan gangguan mental yang cukup mengganggu aktivitas harian, maka sudah saatnya kamu memeriksakan diri atau memeriksakan diri kepada professional. Jadi sebenarnya, mau ke Psikolog atau Psikiater terserah mau yang mana. Kalau menurut saya, kalau untuk yang awal-awal terutama yang berhubungan dengan psychological boleh banget ke Psikolog dulu, nanti jika orang itu merasa ‘saya butuh lebih nih’, dia ingin ke Psikiater itu bisa saja tergantung pilihannya dia. Tetapi pada akhirya Psikiater pun berkolaborasi dengan Psikolog, mengirimkan rujukan, mengirimkan referral untuk memberikan psikoterapi, seperti itu,” terang Nova.

Baca Juga: Stop! Jangan Samakan Lagi Serangan Panik dan Serangan Kecemasan, Ini Bedanya!

Baca Juga: Susah Hidup Tenang, Ini Gejala OCD yang Harus Kamu Ketahui!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.