Moms, kesehatan kandungan jadi hal yang perlu diperhatikan ibu hamil alias bumil agar bayi yang dilahirkan sehat. Meski begitu, jangan kaget lho Moms kalau ternyata bumil pun bisa kena preeklamsia, lho!

Dokter Spesialis Kandungan RSIA Bunda, dr. Aditya Kusuma, SpOG., menuturkan, preeklamsia atau kelainan kehamilan ini bisa membahayakan ibu hamil sekaligus janin dalam kandungannya.  

Umumnya, gejala preeklamsia bisa terlihat saat memasuki usia kehamilan 20 minggu. Dan kendati tak terlalu umum, preeklamsia bisa dialami sekitar 5 sampai 8 persen kehamilan.

"80 persen wanita dengan preeklamsia itu gak memiliki gejala. Ini yang seringkali menjadi silent killer untuk wanita. Adapun, beberapa resiko preeklamsia yakni persalinan prematur, kematian janin, berat badan lahir rendah, plasenta terlepas sebelum waktunya dan kejang," papar dr. Aditya, saat  konferensi pers ‘Deteksi Dini Preeklamsia untuk Cegah Risiko Kematian Ibu dan Janin’, sebagaimana dipantau HerStory, Selasa (12/10/2021).

dr. Aditya mengatakan, kini preeklamsia dapat dideteksi lebih dini dengan menggunakan Biomarker sFlt-1 dan PIGF. Menurutnya, pemeriksaan USG sekalipun 4D juga belum cukup untuk mendeteksi preeklamsia. Karena ada ibu hamil yang gak ada riwayat keluarga penyakit tersebut, namun terkena juga.

“Perubahan kadar protein angiogenik seperti sFlt-1 dan PIGF dapat dideteksi sebelum gejala preeklamsia terjadi. Lalu, sFlt-1 dan PIGF dan rasiao sFlt-1/PIGF juga dapat digunakan untuk memprediksi dan mendiganoisi preeklamsia. Dan, sasio sFlt-1/PIGF ini telah terbukti memiliki kinerja tes yang lebih tinggi daripada standar saat ini, yakni menggunakan tekanan darah dan proteinuria,” papar dr. Aditya.

Baca Juga: Terdefinisi sebagai ‘Petir yang Berbahaya’, Kenali Serba-serbi Preeklamsia pada Bumil Ini Moms, Jangan Lengah!