Mata kering. (Pinterest/Freepik)
Memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2021, dr. M. Sidik, Sp.M(K), Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat mengimbau pasien degenerasi makula terkait usia (Age-related macular degeneration/AMD) untuk tetap memperhatikan kesehatan mata serta pengobatan rutin untuk mempercepat kesembuhan, meskipun di tengah pandemi Covid-19 saat ini.
Apalagi, AMD merupakan salah satu penyakit yang paling sering dijumpai, khususnya bagi populasi lanjut usia (aging population) di Indonesia. Jika tak ditangani secara tepat dan teratur, maka AMD akan berujung parah. Bagi penderita AMD tipe basah (wet AMD), dapat terjadi komplikasi hingga kebutaan.
Prevalensi AMD tahap awal di seluruh dunia pada pasien antara 45 dan 85 tahun adalah 8 AMD tahap lanjut adalah 0,4%. Hampir 288 juta orang diperkirakan memiliki AMD pada tahun 20402,3.
Lima negara dengan jumlah penduduk yang mengalami gangguan penglihatan terbanyak yaitu Cina, India, Pakistan, Indonesia dan Amerika Serikat. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian, karena AMD merupakan penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan pada populasi lanjut usia di negara berkembang.
“AMD merupakan salah satu penyakit mata yang perlu mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Oleh sebab itu, dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/ WSD) 2021, seluruh masyarakat diingatkan akan pentingnya kesehatan mata, yang berdampak pada pendidikan, pekerjaan, kualitas hidup, hingga kemiskinan. Saya mewakili seluruh Dokter mata di Indonesia dalam PERDAMI, mengajak para pemangku kepentingan (stakeholders): pemerintah, perusahaan, institusi dan individu, untuk secara aktif mendukung akses kesehatan mata yang universal. Perlu dipastikan bahwa semua orang mendapatkan akses layanan mata tanpa pengecualian (“everyone counts”), termasuk populasi lanjut usia (lansia)," ujar dr. Sidik dalam Virtual Media Briefing sekaligus Journalistic Award, Kamis (14/10/2021).
Gangguan penglihatan dan kebutaan akibat AMD sangat menurunkan kualitas hidup lansia, yang sebetulnya perlu tetap aktif dan berkontribusi dalam masyarakat. Gangguan terjadi secara perlahan dan progresif, sehingga memerlukan pemantauan ketat, serta kontrol dokter dan pengobatan berkala. Walaupun situasi pandemi Covid-19 memang menyulitkan, pasien AMD harus rajin ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan sehingga tak terjadi kondisi pengelihatan yang memburuk.
“PERDAMI terus berusaha mendukung deteksi dan pengobatan berbagai penyakit mata, antara lain dengan menyelenggarakan berbagai forum update pengetahuan dan pelatihan secara berkelanjutan pada Dokter spesialis mata. Kami juga sangat mengapresiasi Bayer Indonesia, yang dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2021, berinisiatif bermitra dengan PERDAMI dalam hal riset, serta menyelenggarakan Journalistic Award dengan fokus AMD,” tutur dr. Sidik.
Dalam kesempatan yang sama, Dr.dr. Gitalisa Andayani, Sp.M(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan RSCM-FKUI juga menegaskan, tanpa penanganan secara dini dan berkelanjutan, AMD akan terus memburuk dari waktu ke waktu terutama Degenerasi Makula terkait Usia tipe basah (wet AMD). Bisa dikatakan wet AMD menjadi penyebab utama kehilangan penglihatan permanen yang parah pada orang di atas usia 60 tahun.
“Age-related macular degeneration (AMD) sendiri merupakan kerusakan makula, yaitu pusat fokus penglihatan pada retina mata kita. Terjadi perubahan anatomi makula, yang menyebabkan gangguan fungsi penglihatan mulai dari distorsi bentuk atau penglihatan buram, hingga buta pada penglihatan sentral. Akibatnya pasien tak dapat membaca, menulis, bahkan melihat wajah orang di hadapannya,” jelas dr. Gitalisa.
AMD sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu AMD kering (dry AMD) dan AMD basah (wet AMD). Pada AMD kering terjadi kerusakan makula secara bertahap, biasanya selama bertahun-tahun, karena sel-sel retina mati dan tidak diregenerasi. Sekitar 10% hingga 15% orang dengan AMD kering, penyakitnya akan berkembang menjadi AMD basah.
Pada AMD basah, terjadi pertumbuhan pembuluh darah abnormal ke dalam makula, sehingga terjadi perdarahan atau akumulasi cairan di makula. Akibatnya, akan timbul jaringan parut pada makula yang menyebabkan pasien kehilangan penglihatan sentralnya (kebutaan). AMD basah sering berkembang dengan sangat cepat dan dapat menyebabkan kehilangan daya lihat yang sangat signifikan.
“Pada dasarnya faktor risiko utama dari AMD adalah usia. Namun beberapa faktor lain seperti faktor genetik dan merokok, juga bisa meningkatkan risiko AMD. AMD biasanya terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun, tetapi dapat terjadi lebih awal. Mereka yang memiliki faktor risiko ini tentu harus waspada, karena jika tidak ditangani dengan baik, AMD bisa mengakibatkan komplikasi hingga kebutaan, bahkan juga memengaruhi kesehatan mental seperti risiko depresi dan isolasi sosial yang lebih tinggi,” terang Dr. Gitalisa.
Terkait pengobatan Dr. Gitalisa menambahkan, AMD kering biasanya tak mengakibatkan kehilangan penglihatan total, dan saat ini belum ada pengobatan yang efektif. Namun, terapi pada AMD basah telah mengalami perkembangan pesat dalam dua dekade terakhir, salah satu obat adalah Aflibercept yang dapat menghambat faktor pertumbuhan endotel anti- vaskular (vascular endothelial growth factor atau VEGF). Terapi dengan Aflibercept dilakukan dengan cara suntikan ke dalam bola mata (intravitreal), dapat memperlambat pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan mencegah kerusakan makula lebih lanjut, sehingga mencegah kebutaan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.