Ilustrasi wanita sedang tertidur pulas. (Freepik/gpoinstudio)
Beauty, umumnya orang merasa segar setelah tidur cukup selama 7-9 jam. Namun, ada juga beberapa orang yang hanya butuh tidur kurang dari 6 jam. Nah, kondisi itu dinamakan short sleeper syndrome atau SSS, Beauty.
Nah, seseorang yang mengidap SSS ini, meski jam tidur singkat tapi mereka bisa bangun dengan segar. Juga, tak mengantuk ketika beraktivitas.
Terkait hal itu, dr. Wardah Rahmatul Islamiyah SpS., menjelaskan, tahapan tidur sendiri terdiri dari 4 stadium., yakni stadium I, II, III, dan REM (rapid eye movement).
Pada stadium I, kata dia, mata sudah terpejam, tetapi mudah dibangunkan.
“Kalau orang Jawa bilang, melek-melek ayam. Dengar suara dikit, bangun lagi,” jelas spesialis saraf dari RSUD dr Soetomo Surabaya tersebut, dikutip dari media sindikasi JPNN.com, Kamis (4/11/2021).
Pada stadium kedua, detak jantung menurun. Tanda bahwa tubuh siap untuk tidur lebih dalam.
“Nah, ini sudah mulai susah dibangunkan,” kata Wardah.
Masuk ke stadium ketiga, kata dia, orang tersebut sudah tidur dalam dan mulai sulit dibangunkan. Jika dibangunkan paksa, biasanya akan terasa linglung sesaat.
“Tidur dikatakan nyenyak kalau mencapai stadium III. Regenerasi tubuh dan pembentukan sel terjadi pada saat itu,” ungkapnya.
Lalu, yang terakhir adalah fase REM (rapid eye movement). Selama tahap tersebut, seseorang bermimpi intens karena otak lebih aktif.
“Mata bergerak-gerak sambil terpejam,” ujarnya.
Kata dr. Wardah, seorang pengidap SSS dengan mudah mencapai stadium III meski jam tidurnya pendek. Umumnya, setiap orang perlu waktu 50-60 menit untuk mencapai stadium III.
“Dia gak merasa capek karena ya memang jam tidurnya hanya sebanyak itu,” tegasnya.
dr. Wardah lantas mengatakan, ada dua penyebab seseorang mengalami SSS.
Pertama, yakni genetik. Bisa berkaitan keturunan (herediter) atau mutasi genetik. Misalnya, karena trauma lahir, polusi, terpapar radiasi waktu kecil, dan penyebab lain. Dan kedua, karena gaya hidup atau rutinitas.
Lebih lanjut, dr. Wardah menegaskan, SSS bukan gangguan tidur karena penderita gak merasakan ada dampak negatif. Berbeda dengan orang yang memang tidur pendek dengan kualitas tidurnya rendah. Kondisi begini dipicu hal-hal yang membuat orang tersebut mudah terjaga. Misalnya, pengidap diabetes yang harus sering bangun tidur karena kebelet pipis.
dr. Wardah lalu mencontohkan kasus yang dialami seorang pasiennya, sebut saja namanya Adi. Sejak kecil, Adi dibiasakan tidur pada pukul 21.00. Dia kerap terbangun pada pukul 02.00. Awalnya, dia menduga itulah gejala insomnia. Namun setelah ditanya, Adi menyatakan bahwa tak ada masalah dan dirinya tetap merasa fresh saat bangun.
“Kuncinya, apakah terasa fresh saat bangun? Kalau iya, dia sangat mungkin SSS,'' paparnya.
Dikatakannya, SSS bisa mengganggu jika lingkungan sekitar tak mendukung. Misalnya dalam kasus Adi. Dia merasa aneh karena harus bangun saat orang-orang di rumahnya masih terlelap. Mencoba tidur lagi pun tak bisa. Karenanya, ia pun mengatasinya dengan terapi kognitif behavioral.
''Kalau mau bangun jam 5 seperti orang lain, bisa diatasi dengan tidur lebih malam. Misalnya, jam 11 malam (23.00),'' tuturnya.
dr. Wardah sangat tak menyarankan seseorang untuk mengonsumsi obat tidur jika ada masalahj tidur. Sebab, obat tidur hanya akan membuat mengantuk, tetapi belum tentu membuat seseorang masuk fase tidur dalam.
“Padahal, yang kita butuhkan adalah kualitas tidur,” ujarnya.
dr. Wardah melanjutkan, selain SSS, ada pula long sleeper syndrome (LSS). Bila dibandingkan dengan SSS, menurut Wardah, lebih banyak orang dengan LSS. Pengidapnya butuh waktu tidur 10-12 jam.
“Sama dengan SSS, ini gak termasuk gangguan karena mereka merasa segar setelah bangun tidur selama itu,” tuntasnya.
Semoga informasinya bermanfaat ya!
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di JPNN.com
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan JPNN.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.