Kesehatan mental bagi anak dan remaja menurut Moeljono Notosoedirjo Latipun selain bermaksud menumbuh-kembangkan potensi yang dimiliki, sekaligus mencegah kemungkinan munculnya gangguan mental. Ini dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Kesehatan Mental. Tapi tahukah kamu, kalau sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak yang diintimidasi daripada anak yang diperlakukan buruk oleh orang tuanya memiliki lebih banyak masalah di masa dewasa?
Bullying, satu hal yang sudah sangat akrab dengan lingkungan kita, rekan sebaya ini mungkin lebih buruk daripada orang tua ketika datang ke efek psikologis dari kata-kata meremehkan dan pelecehan, loh!
Beberapa orang bisa bangkit dari bullying, tapi gak semua orang sukses kembali tegak dari intimidasi yang dilakukan lingkungan sekitarnya ini, Dear. Para artis pun ternyata pernah jadi korban bullying, seperti dilansir dari beberapa sumber, 3 artis ini pernah jadi korban bullying!

1. Jennifer Garner dikucilkan karena cupu

Garner saat masa kecil gak sekeren sekarang, Dear. Penampilan cupu sehingga jadi korban dikucilkan di sekolahnya. Inilah yang membuatnya tumbuh jadi sosok yang berani sehingga sukses di masa kini.

2. Miley Cyrus dikucilkan karena seorang anak artis

Jadi anak artis artinya ikut menerima ketenaran dan kebahagiaan tidak berlaku bagi Miley Cyrus yang mempunyai ayah seorang penyanyi, penulis lagi dan artis, Billy Rau Cyrus. Namun meskipun sempat terpuruk oleh orang-orang di masa pertumbuhannya, Miley membuktikan bahwa ia bisa meraih kesuksesan di masa kini.

3. Prilly Latuconsina dikucilkan karena pendek

Masa lalu Prilly ternyata cukup pahit karena tubuhnya yang pendek hingga menerima hinaan bodyshaming. Tapi dia tetap membuktikan bahwa dengan menerima tubuh apa adanya ini, ia tetap bisa sukses hingga saat ini.
Meskipun begitu, 3 artis ini hanyalah contoh dampak orang-orang yang kuat bertahan hingga sukses. Sebuah penelitian di The Lancet Psychiatry Trusted Source melaporkan bahwa anak-anak yang diintimidasi oleh rekan sebaya memiliki gangguan kesehatan mental yang signifikan sebagai orang dewasa melebihi siginifikasi anak-anak tang diperlakukan buruk oleh orang tua atau pengasuhnya.
Profesor Psikologi Universitas Warwick, Dieter Wolke mengungkapkan kalau penganiayaan sebagai pelecehan fisik, seksual atau emosional oleh pengasuh orang dewasa, sedangkan intimidasi adalah agresi yang diulangi oleh teman sebaya, yaitu dengan ejekan verbal, serangan fisik bahkan pengucilan sosial yang dilakukan setidaknya seminggu sekali.
Upaya kebijakan publik dan sistem sekolah individual dapat menjadi langkah untuk mencegah dan mengatasi penindasan, sebab anak-anak ini perlu dilindungi untuk masa depannya yang jauh lebih baik. Wolke mengungkapkan pada Healtline.com, “studi kami menemukan bahwa intimidasi memiliki lebih banyak efek buruk pada kesehatan mental jangka panjang daripada penganiayaan”.
Hal ini sejalan dengan Moeljono, bahwa di negara-negara berkembang seperti di Indonesia, perilaku yang tidak sehat seperti berkendara secara ugal-ugalan berisiko kecelakaan dilakukan oleh banyak remaja. Keterlibatan dalam perkelahian antar remaja, kabur dari rumah, melakukan tindak kekerasan dan berbagai pelanggaran hukum adalah umum dilakukan sebagai problem psikososial.
Perhatian seluruh pihak selain orang tua, seperti teman sebaya lainnya hingga pemerintah sangat penting untuk mengurangi keadaan bullying pada anak ini. Kesehatan mental masyarakat pun bisa tercermin dari kesehatan mental remaja sebagai ukuran umur paling labil. Makin tinggi angka delinkuensi, bunuh diri, penggunaan obat dan kebergantungan pada zat adiktif, berarti kesehatan mental masyarakatnya makin rendah.
Yuk, lebih perhatian dengan kasus bullying. Jangan sampai kita membiasakan penindasan bahkan sedari kecil, sebab gak semua anak bisa sukses berdiri tegak di masa depan dengan keadaan mental yang sudah rusak, Dear!