Menu

Stunting Makin Genting, BKKBN ‘Gercep’ Lakukan Ini, Simak Yuk Moms!

28 Januari 2022 13:54 WIB
Stunting Makin Genting, BKKBN ‘Gercep’ Lakukan Ini, Simak Yuk Moms!

Ilustrasi anak-anak yang memiliki masalah gizi (Shutterstock/Gary Yam)

HerStory, Jakarta —

Moms, persoalan anak stunting masih menjadi ancaman kesehatan di negara kita.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sendiri mendefinisikan stunting sebagai kondisi gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Alhasil, anak jadi lebih pendek daripada tinggi badan rata-rata usianya.

Terkait hal itu, Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. Rizal Damanik, mengungkapkan bahwa angka prevalensi stunting di Indonesia di tahun 2021 ini masih cukup tinggi, yaitu 24,4 persen. Meskipun telah berhasil diturunkan, kata Rizal, namun angka prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

“Saat ini angka stunting di Indonesia itu 24,4 persen. Sebelumnya, 27,7 persen. Ini satu kondisi penurunan yang bagus. Namun demikian angka 24,4% ini masih melewati batas yang dapat ditolelir oleh badan kesehatan dunia, yaitu sebesar 20%. Tentunya jika Indonesia masih memiliki angka stunting yang tinggi berbagai prestasi yang sudah diraih oleh Indonesia dengan adanya angka stunting yang masih tinggi ini mengganggu mengganggu performa Indonesia di mata internasional,” tutur Prof. Rizal, saat acara Virtual Press Conference: Rayakan Hari Gizi Nasional 2022, Royco Pertegas Komitmen Atasi Malnutrisi melalui Aksi dan Kolaborasi Strategis, sebagaimana dipantau HerStory, belum lama ini.

Prof. Rizal bilang, anak stunting akan mengalami gangguan tumbuh dan gangguan dalam berkembang. Anak-anak tersebut juga berpotensi mengalami gangguan kualitas otak anak yang akan menentukan masa depan anak, keluarga dan bangsa. Gak cuma itu, lanjut dia, anak stunting berisiko gagal sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, orang tua, keluarga, masyarakat dan bangsa sama-sama turut bertanggung jawab mencegahnya.

Prof. Rizal lantas menuturkan, selaku pelaksana percepatan penurunan stunting nasional yang ditunjuk oleh Presiden RI, BKKBN pun berupaya mencapai target penurunan stunting menjadi 14% pada 2024. Caranya bagaimana?

Untuk melaksanakan percepatan penurunan stunting itu, sambung Rizal, telah ditetapkan strategi nasional percepatan penurunan stunting. Meliputi, menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.

“Untuk mewujudkan itu, BKKBN membuat Rencana Aksi Nasional yang diterapkan di seluruh provinsi dalam menangani persoalan gizi, menyasar anak-anak muda yang akan menjadi calon orang tua, ibu hamil, ibu menyusui, serta bayi, demi mencegah terjadinya stunting,” papar Prof. Rizal.

Kemudian, sambung dia, sebagai pelaksana percepatan penurunan stunting nasional, BKKBN juga turut bekerjasama dengan pihak swasta dalam program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

DASHAT, sambung Prof. Rizal, adalah upaya memanfaatkan potensi pangan lokal yang sehat, lezat, bergizi serta kekinian melalui kegiatan teori dan praktek pengolahan pangan oleh para ahli gizi, ahli kuliner lokal dan juru masak profesional potensi pangan lokal.

Adapun, kolaborasi BKKBN melalui program ini akan dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa/kelurahan sebagai upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting. 

“Nantinya, kader DAHSAT akan dibekali inspirasi resep Nutrimenu dan edukasi mengenai pentingnya memasak serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang sesuai panduan Isi Piringku, sehingga dapat disebarluaskan kepada seluruh target program, termasuk ibu hamil/menyusui,” tandas Prof. Rizal.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan