Pandemi virus corona telah menewaskan lebih dari 520.000 orang di seluruh dunia. Selain itu, menurut data yang dikumpulkan oleh Center for Systems Science and Engineering at Johns Hopkins University, ada lebih dari 10,8 juta orang di seluruh dunia yang telah didiagnosis terinfeksi COVID-19. Jumlah yang aktual diyakini jauh lebih tinggi dari paparan di atas karena kurangnya pengujian.

Hingga kini kasus virus corona pun masih terus berlanjut di berbagai negara. Oleh sebab itu, para ahli kesehatan berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin atau obat guna melawan virus mematikan ini. Seperti diketahui bahwa sebelumnya obat remdesivir dan dexamethasone diketahui bisa menurunkan risiko kematian pasien COVID-19 akut. Namun, itu masih diperlukan banyak penelitian.

Pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengatakan mereka mengharapkan ada hasil pengobatan virus corona potensial siap dalam waktu dua minggu.

Baca Juga: Waduh! WHO Sebut Vaksin Corona Sputnik V Berstatus Uji Klinis I, Ilmuwan Ragukan Efektivitasnya

Baca Juga: Apa Benar Cegukan Jadi Gejala Virus Corona?

"Hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah direkrut ke dalam Solidarity Trial. Kami mengharapkan hasil sementara dalam dua minggu ke depan," kata direktur jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam jumpa pers seperti dikutip dari ABC News.

Solidarity Trial dimulai dalam lima kandidat obat yang potensia; untuk pengobatan COVID-19, meliputi remdesivir, hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir / ritonavir, dan lopanivir / ritonavir dikombinasikan dengan interferon.

"Kelompok itu meninjau data dari Solidarity Trial dan menyetujui perlunya lebih banyak uji coba untuk menguji berbagai kelas terapi pada berbagai tahap penyakit," sambungnya.

Sementara itu, Kepala Program Keadaan Darurat WHO, Dr. Mike Ryan, mengatakan bahwa belum bisa memprediksi kapan vaksin virus corona dapat diluncurkan.

Baca Juga: Waduh, Hanya 2 Provinsi yang Laporkan Nihil Kasus Per 12 Agustus 2020 Lho!

Baca Juga: Mengenal Sputnik V, Vaksin Corona Pertama di Dunia Asal Rusia

"Vaksin mungkin telah menunjukkan kemanjuran pada akhir tahun ini. Pertanyaannya adalah apakah skala produksi vaksin itu akan cukup bagi kita untuk mulai memvaksinasi orang pada awal tahun 2021," ungkapnya.