Rape culture atau budaya pemerkosaan bukan masa biasa apalagi cuma dibilang tuduhan kemarahan orang yang mendukung kesetaraan gender. Budaya ini kental di Indonesia karena korban pelecehan atau kekerasan seksual bisa-bisa dihukum karena melaporkan pelaku. Bahkan dianggap tabu untuk diperjuangkan. Kesalahan orang lain menjadi kesalahan korban karena berani melaporkan tindakan keji yang sangat kotor itu. Alih-alih melaporkan, korban justru dianggap lebih kotor daripada pelaku. Stigma negatif masyarakat bisa jauh lebih kejam daripada hukum di negara ini, Beauty!

Inilah yang membuat banyak penyintas pemerkosaan memilih diam bahkan depresi. Sudah trauma dengan kejadian buruk yang menimpanya, tekanan masyarakat lebih biadab lagi mengecam korban-korban ini. Rasanya terlalu keji kalau pelaku kekerasan seksual ini diminta menikahi korban, sudah dihancurkan di masa sekarang, gak diberi ruang pula untuk mempunyai masa depan. Inilah budaya di negara kita yang harus dilawan.
Dilansir dari Oxford Dictionaries, rape culture adalah istilah untuk menggambarkan suatu masyarakat ataupun lingkungan yang terkesan menyepelekan pelecehan seksual. Bahkan masyarakat memiliki tendensi untuk menyalahkan korban atau victim blaming. Kalau kamu merasa kasus kekerasan seksual adalah hal biasa dan dijadikan angin lalu, sorry to say, Beauty, kamu adalah bagian dari rape culture ini. 
Memaafkan pelaku pemerkosaan yang menikahi korban dengan alasan pertanggungjawaban adalah kesalahan besar. Kondisi psikis penyintas bisa makin buruk dengan trauma yang dia terima. Pelaku cuma cari aman dari kelakuan bejadnya ini. Secara fisik maupun psikis jelas menyiksa banget buat korban, Beauty. Korban terpojok dalam situasi yanggak berpihak. Tekanan dari keluarga dan masyarakat begitu kejam. Inilah Indonesia.
Korban gak punya pilihan lain apalagi buat tawar-menawar atas hidupnya. Pendamping penyintas untuk mendukung apapun pilihannya gak jarang mendesak korban supaya menerima dan bersyukur atas apa yang terjadi. Entah apa yang harusnya disyukuri sebenarnya atas kehancuran yang korban terima.
Obrolan seksis yang pernah kamu dengar atau kamu terima pun bisa jadi bukti rape culture ini merajalela di lingkungan kita. Contohnya adalah saat kamu menegur orang yang ngomong seksis, justru nyolot dan bilang “baperan banget, sih!” atau “cuma bercanda!” Hayo, ada yang mewajarkan ujaran seksis ini gak?
Rape culture ini juga termasuk saat kamu memaklumi tindakan kekerasan seksusal seperti “kucing dikasih ikan ya gak akan nolak”. Apakah makin jelas rape culture ini? Kultur ini dijaga dan terjaga sampai jadi momok bagi para wanita, bahkan dilegalkan oleh sejumlah perangkat hukum.
Contohnya? Aturan di sejumlah daerah soal pakaian khusus wanita, jam malam bagi wanita sampai pemisahan tempat parkir. Padahal hal ini menunjukkan gak adanya rasa terlindungi di negara sendiri sampai segala hal harus diatur “demi keamanan”. Victim blaming terus langgeng di lingkungan kita membuat keadilan antara wanita dan pria makin gak imbang. 
Saat merubah pakaian gak merubah pikiran mesum pria yang dibuktikan dengan banyaknya kasus pelecehan seksual meskipun korban menggunakan cadar sekalipun, lebih baik mulai hijrah dari masyarakat yang melanggengkan rape culture. Gak ada yang layak menerima pelecehan seksual dan kekerasan seksual, apalagi layak disalahkan padahal sudah jelas menjadi korban, Beauty.