Alat Kontrasepsi. (Unsplash/Reproductive Health Supplies Coalition)
Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, dr. Eni Gustina, MPH., mengingatkan para pasangan usia subur untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya terkait KB (Keluarga Berencana) dan kesehatan reproduksi ke depannya.
“Hal tersebut tentunya untuk menurunkan kematian ibu kematian bayi. Tentunya juga ini bukan satu hal yang mudah, perlu kolaborasi dan dukungan dari semua pihak,” tutur dr. Eni, saat sesi konferensi pers dan talk show bertajuk “Pentingnya Peran Kontrasepsi Modern untuk Menyukseskan Program Keluarga Berencana dan Meningkatkan Kesehatan Reproduksi”, sebagaimana dipantau HerStory, Senin (14/2/2022).
Dikatakan dr. Eni, hingga saat ini, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi, yakni masih diangka 305 per 100 ribu kelahiran hidup.

“Dan di tahun 2024, kita targetkan menjadi 183 per 100 ribu kelahiran hidup,” ujarnya.
Adapun, kata dr. Eni, penyebab tingginya angka kematian ibu, bayi dan juga stunting, 20 persen ditunjang oleh pelayanan kesehatan. Kata dia, pengetahuan keluarga dalam menggunakan alat kontrasepsi pun turut berperan menaikkan angka itu.
dr. Eni bilang, dengan tingkat pendidikan di Indonesia yang masih rendah dan belum mencapai rata-rata sembilan tahun, masyarakat masih membutuhkan banyak informasi terkait pelayanan KB dan pelayanan bagi kesehatan reproduksinya.
“Dan tentunya ini juga sebuah upaya kita lakukan bersama-sama. Kalau melihat penyebab kematian ibu, penyebab kematian bayi, penyebab masih tingginya stunting salah satunya memang ditunjang oleh peran masyarakat, tapi kalau kita melihat pelayanan kesehatan kontribusinya hanya 20%. Justru yang paling tinggi kontribusi adalah dari lingkungan dan salah satunya dari pengetahuan ibu dan keluarga,” bebernya.
“Karenanya dengan kita melakukan konferensi pers ini, semoga masyarakat kita bisa sadar betul, karena sampai dengan saat ini tingkat pendidikan Indonesia masih dikatakan rendah, belum mencapai rata-rata 9 tahun. Jadi memang membutuhkan informasi-informasi terkait pelayanan KB, terkait kesehatan reproduksi,” sambung dr. Eni.
Lebih lanjut, dr. Eni pun berharap, dengan terjalinnya kerja sama antara BKKBN dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBA), masyarakat dapat memahami pentingnya menggunakan kontrasepsi dan pentingnya Keluarga Berencana (KB).
“Nah salah satu upaya kita untuk dapat mencapai target RPJMN ini adalah dengan kontribusi pemakaian kontrasepsi. Saya berharap betul, sahabat-sahabat bidan semua dan teman-teman media bisa menyampaikan informasi penting ini agar mereka mengetahui risiko-risiko terkait kematian ibu dan bayi dan stunting. Karena saat ini ternyata pernikahan di usia anak sudah cukup tinggi, angka kelahiran pada usia remaja cukup meningkat. Demikian juga kematian ibu di atas usia 35 tahun juga ini masih menjadi masalah,” tuturnya.
Gak cuma itu, dr. Eni pun berharap, masyarakat juga bisa bisa mengatur atau menjaga jarak angka kelahiran, sehingga terciptanya keluarga yang berkualitas. Pasalnya, dengan adanya keluarga berkualitas maka dapat menurunkan tingkat stunting dan dengan begitu anak yang lahir nantinya dapat menjadi anak yang berkualitas dan terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
“Semoga kegiatan ini bisa mengedukasi masyarakat untuk sadar akan kesehatan reproduksinya, karena kontrasepsi bukan hanya untuk mencegah kehamilan atau membatasi kelahiran anak, tapi betul-betul masyarakat itu mengetahui, memahami, dan juga menggunakan kontrasepsi sebagai salah satu hak mereka untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Karena dengan mereka menggunakan kontrasepsi mereka dapat membatasi kehamilannya, dapat mengatur jarak anaknya, dapat merencanakan setiap kehamilan, sehingga akan lahirlah anak-anak yang berkualitas, anak-anak tanpa risiko stunting, dan tentunya untuk meningkatkan sumber daya manusia di masa yang akan datang,” pungkas dr. Eni.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.