Menu

Stop! Inilah 5 Alasan Cancel Culture Harus Dihentikan

10 Juli 2020 13:07 WIB
Stop! Inilah 5 Alasan Cancel Culture Harus Dihentikan

ilustrasi cancel culture

HerStory, Jakarta —

Sudah tahukah, Beauty apa itu Cancel Culture? Cancel culture ini seperti mentalitas massa yang bisa disebut cara lama berbicara untuk kekuasaan. Maksudnya, seseorang bisa 'dibatalkan' karena secara budaya dihalangi untuk punya platform publik.

Lebih buruknya, seseorang bisa dihalangi untuk punya karier yang menonjol. Pelaku yang menghalangi siapa? Wargatnet! Maha benar mereka dengan segala praduganya. Tahukah kalian polanya akan selalu sama dalam "batalkan budaya" ini? Seorang selebriti atau tokoh publik mengatakan sesuatu yang seperti serangan, dan reaksi publik dan juga warganet yang sering terpicu oleh media sosial yang merujuk pada hal politis. 

Apa yang bikin lebih bahaya? Yap! Panggilan untuk orang-orang 'membatalkan' orang lain yang efektif banget mengakhiri karir mereka atau mencabut cap budaya mereka. Contohnya boikot pekerjaan mereka dan tindakan disipliner dari majikannya. Mengerikan banget, kan!

Tetapi sebenarnya mengakhiri karir seseorang melalui kekuatan reaksi publik lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Beberapa penghibur benar-benar telah dibatalkan. Mereka gak memiliki karir karena karirnya sepenuhnya ditutup oleh kritik negatif di internet. Masih mau main-main sama cancel culture ini, Beauty? Jadi, inilah 5 alasan kenapa cancel culture harus musnah.

1. Manusia makhluk dinamis, bisa berubah

Seseorang gak mungkin berperilaku, misalnya berbohong, seumur hidupnya. Bisa jadi dia berubah beberapa tahun bahkan bulan setelahnya. Gak ada gunanya sama sekali cari tweet, foto atau video yang sudah terjadi 10 tahun atau bertahun-tahun silam. Umur saja berubah, masa perilaku gak berubah sama sekali?

Kesalahan yang sudah dimaafkan gak perlu diungkit lagi. Tujuan bikin orang di-bully atau supaya orang ini jatuh terpuruk untuk apa, sih?

2. Lebih banyak hal merugikan daripada bermanfaat

Dilansir dari beberapa sumber, contoh ini bisa banget jadi pelajaran, kasus James Charles. Warganet menghujatnya atas tuduhan dia seorang predator seksual, dia dianggap menjijikan karena berita miring ini bahkan didukung oleh banyak artis. Padahal beritanya simpang siur. Pengikutnya di tempatnya berkarya menurun, seperti subscriber di youtube misalnya, dan sumpah serapah terhadapnya selalu ramai sampai akhirnya dia mau bunuh diri karena keadaan ini.

Kalian tahu, Beauty, ternyata tuduhan ini gak benar sama sekali dan kasus ini gak bikin orang lainnya berubah, jagat internet tetap ramai soal masalah yang belum jelas kebenarannya. Tuduhan yang gak berdasar ini banyak banget ruginya, jadi penting buat kalian berhenti jadi polisi moral dan melanggengkan cancel culture ini. 

3. Bukan kritik

Kalau kalian pikir ini adalah kritik, kalian salah, Beauty. Kritik harusnya membangun dengan masukan, kalau cancel culture ini bikin orang harus berhenti melakukan apapun, semuanya. Berhenti kerja, berhenti bahagia tapi gak boleh sedih juga, gak boleh minta maaf, gak perlu nafas lagi bahkan mati saja. Apapun yang dilakukan adalah salah bagi warganet. 

Orang berkarya diboikot karena gak disukai dan dirasa gak pantas mendapat perhatian, di Indonesia sering banget, lho, hal seperti ini terjadi, Kekeyi contohnya yang instagramnya mendadak hilang beberapa waktu lalu. Luar biasa kejahatan orang di balik akun sosial medianya.

4. Cuma buat publik figur

Punya perhatian dari masyarakat bukan lagi jadi hal menyenangkan, ya. Sebab cancel culture ini cuma berlaku buat mereka, warganet? Biasanya santai saja, gak ada masalah yang lebih besar dan gak dipedulikan. Tapi kalau ini soal publik figur yang punya banyak fans, baru hal ini terjadi. Padahal kesalahan gak cuma dilakukan publik figur. Menghina orang seperti yang dilakukan warganet juga kesalahan, lho. Jadi inilah yang harus dimusnahkan, cancel culture gak baik sama sekali.

5. Gak bisa menggantikan hukum

Hukum di Indonesia penuh dengan ketidakadilan? Iya, hukum rimba-nya apalagi, masyarakat sering melakukan hukuman sendiri pada orang yang "dianggap bersalah" dan cuma bilang "ya gak tahu" kalau ternyata orang yang disalahkannya (gak jarang dipukuli massa) ternyata gak salah. Kejam banget kan? Nah, cancel culture ini sama sekali gak bisa menggantikan hukum, gak bisa orang dihukum karena cancel culture ini.

Sampai sini paham kan, Beauty, kenapa cancel culture harus sirna? Gak boleh ada lagi. Yuk, mulai dari diri sendiri!

Baca Juga: Makin Terkenal, Ternyata Bunda Corla Pernah Bully Nikita Mirzani 4 Tahun Lalu: Kirain Udah Berubah, Ternyata...

Baca Juga: Deretan Artis yang Nyaris Kena Cancel Culture Tahun 2022, Rezeki Auto Anjlok, Arawinda Kirana Sampai 'Seret' Sosok Aktor Ternama!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.