Menu

Hari Ginjal Sedunia, PERNEFRI Ingatkan Soal Kesenjangan Pengetahuan Serta Bahaya Hipertensi dan Diabetes

09 Maret 2022 12:37 WIB
Hari Ginjal Sedunia, PERNEFRI Ingatkan Soal Kesenjangan Pengetahuan Serta Bahaya Hipertensi dan Diabetes

Para pembicara dan peserta webinar Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day atau WKD) yang mengangkat tema ‘Kidney Health for All: Bridge the Knowledge gap to Better Kidney care”, Rabu (9/3/2022). (Riana/HerStory)

HerStory, Bogor —

Beauty, Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day atau WKD) yang jatuh di setiap hari Kamis pada minggu kedua di bulan Maret, kembali diperingati di Indonesia dan di seluruh dunia pada tanggal 10 Maret 2022.

Pada tahun ini, WKD mengangkat tema ‘Kidney Health for All: Bridge the Knowledge gap to Better Kidney care” yang secara spesifik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama dalam menjembatani kesenjangan pengetahuan untuk kesehatan ginjal yang lebih baik.Pada tahun ini kampanye lebih menekankan pada upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan tentang kesehatan ginjal melalui peningkatan literasi kesehatan ginjal.

Berbicara soal penyakit ginjal sendiri, Penyakit Ginjal Kronik (PGK) tercatat sebagai penyebab 4,6% kematian global pada tahun 2017 dan merupakan peringkat ke-12 sebagai penyebab kematian. Angka ini diprediksi akan terus meningkat dan PGK diperkirakan akan menjadi penyebab kematian tertinggi ke-5 di seluruh dunia pada tahun 2040.Di Indonesia, prevalensi PGK semakin meningkat setiap tahun, bila tidak diobati suatu ketika dapat mengalami gagal ginjal.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan tahun 2018, prevalensi PGK adalah 0,38%.Data registri Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) pada tahun 2020 menunjukkan insidensi kumulatif pasien yang menjalani dialisis (cuci darah) 61.786, dan prevalensi kumulatif 130.931.

Adapun, penyebab utama gagal ginjal adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi dan kencing manis (diabetes). Tingginya angka gagal ginjal ini tidak hanya menjadi beban bagi pasien dan keluarga tetapi juga beban bagi negara dimana biaya yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan sangat tinggi.

Penyakit ginjal pada awalnya tidak bergejala, akibatnya banyak orang yang tidak mengetahui bahwa mempunyai gangguan ginjal. Masih banyak yang belum memahami bagaimana memelihara kesehatan ginjal dan apa yang perlu dilakukan bila kemudian fungsi ginjalnya menurun.Karenanya, diperlukan kolaborasi yang baik antara pemerintah, tenaga kesehatan dan organisasi kesehatan, industri kesehatan, pasien/keluarga serta masyarakat, secara bersama sama untuk meningkatkan pengetahuan dan literasi kesehatan ginjal.

dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI, yang mewakili Menteri Kesehatan RI, dalam sambutannya pada Virtual Press Conference hari ini menjelaskan, saat ini negara Indonesia sedang menghadapi triple burden/ beban tiga kali lipat berbagai masalah penyakit.

Yang pertama, adanya Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging seperti Covid 19. Kedua, Penyakit Menular belum teratasi dengan baik. Dan yang ketiga, Penyakit Tidak Menular (PTM) cenderung naik setiap tahunnya. Akibatnya dapat dilihat dari Porsi pengeluaran kesehatan Indonesia masih berfokus pada upaya kuratif.

“Tantangan kesehatan di Indonesia salah satunya adalah terkait dengan Penyakit Tidak Menular (PTM). Angka PTM sejak tahun 2010 mulai meningkat. Pola makan, pola asuh, pola gerak dan pola makan seperti tinggi kalori, rendah serat, tinggi garam, tinggi gula dan tinggi lemak diikuti gaya hidup sedentary lifestyle, memilih makanan junk food/siap saji, ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik, stress dan kurangnya istirahat memicu timbulnya penyakit Hipertensi, Diabetes Militus, Obesitas, Kanker, Jantung, dan hiperkolesterol dikalangan Masyarakat Indonesia. Upaya kami adalah dengan harus terus menekan angka kejadian PTM supaya rendah dalam rangka mendorong pencapaian target pembangunan kesehatan termasuk target SDGs 2030,” jelasnya.

Kemudian, Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Aida Lydia, PhD., SpPD, K-GH menyatakan, sekitar sepertiga pasien dengan PGK belum mengetahui benar mengenai penyakitnya, progresifitas/perjalanan penyakitnya serta modalitas terapi yang ada bila kemudian mengalami gagal ginjal.

“Pada awal perjalanan penyakit PGK umumnya tidak ada gejala, berbagai keluhan baru dirasakan bila penyakit sudah lanjut. Kemungkinan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan ginjal menjadi salah satu penyebab kenapa pada umumnya pasien sering terlambat berobat dan sering datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Gangguan ginjal dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, diagnosis dini dan tatalaksana yang optimal agar pasien tidak sampai mengalami gagal ginjal,” papar dr. Aida.

dr. Aida menuturkan, kesenjangan pengetahuan di tengah masyarakat merupakan momok di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

“Situasi ini turut berdampak pada semakin meningkatnya angka kejadian PGK dan rendahnya kualitas hidup pasien dengan PGK. Oleh karena itu, literasi kesehatan pada semua kalangan menjadi kunci yang dapat meningkatkan kewaspadaan kesehatan ginjal dan keberhasilan program kesehatan pemerintah. Literasi kesehatan didefinisikan sebagai kemampuan seorang individu dalam memperoleh atau mengakses, memahami, serta menggunakan informasi kesehatan tersebut untuk mengambil keputusan dan tindakan medis, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” lanjutnya.

Ia memaparkan, pada saat ini literasi kesehatan masyarakat umum kita bahkan dikalangan pasien PGK sendiri masih tergolong rendah. Masih ada masyarakat yang belum mengetahui apa itu organ ginjal dan fungsinya. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa 90% penyandang PGK tidak menyadari tentang penyakit yang diderita.

Hal ini menunjukkan minimnyainformasi kesehatan dikalangan masyarakat. Secara umum masyarakat perlu diinformasikan mengenai faktor risiko PGK, langkah pencegahan, deteksi dini, nilai laboratorium yang perlu dipantau dan apa maknanya, dampak jangka panjang apa saja yang akan dialami, serta strategi pengobatan apa yang akan dijalani. Informasi-informasi ini bersifat sangat spesifik untuk setiap pasien yang hendaknya dipahami oleh pasien dan keluarga.

“Di samping itu, masih banyak misinformasi di kalangan masyarakat kita yang dalam jangka panjang merugikan kesehatannya. Misinformasi adalah kondisi di mana masyarakat atau pasien mempercayai informasi yang keliru dan menjadikan informasi tersebut sebagai dasar dalam menentukan langkah pengobatan dan gaya hidup ke depannya. Sebagai contoh, masih ada yang berpendapat tidak usah minum obat hipertensi atau obat diabetes karena obat kimia dapat merusak ginjal. Sebenarnya, yang merusak ginjal bukan obatnya tetapi penyakit hipertensi dan diabetes itu sendiri,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan yang penting dalam mengedukasi pasien. Edukasi harus bersifat sedini mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan individual pasien. Edukasi hendaknya dapat terlaksana dengan baik pada semua tingkat layanan kesehatan.

Di samping itu pasien dan keluarga mesti diberdayakan dan di dorong untuk secara pro-aktif memperkaya pengetahuannya dan literasi kesehatannya sendiri melalui sumber yang dapat dipercaya sehingga dapat berperan aktif dalam menjaga kesehatannya dan keluarganya.

“PERNEFRI selaku organisasi perhimpunan dokter yang berkecimpung dalam layanan ginjal- hipertensi, menyelenggarakan rangkaian acara WKD 2022 sebagai bentuk komitmen dan upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan pasien mengenai PGK dan upaya pencegahannya,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar, tren Penyakit Ginjal Kronik terlihat mengalami peningkatan dari 0,2% pada tahun 2013 menjadi 0,38% pada tahun2018.

Berdasarkan data IHME Global Burden of Diseases tahun 2019, sambung dr. Elvieda, penyakit Ginjal Kronik masuk dalam 10 besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2020, pembiayaan bagi penderita Gagal Ginjal mencapai 2,24 trilyun rupiah dari 20 trilyun rupiah yang digunakan untuk total pembiayaan penyakit katastropik.

“Adapun, strategi pencegahan dan pengendalian penyakit ginjal kronik meliputi promosi Kesehatan atau edukasi, pencegahan primer pada sasaran populasi sehat dan berisiko, pencegahan sekunder dilakukan pada sasaran populasi penyandang penyakit tidak menular seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, Obesitas dan penyakit tidak menular lainnya melalui upaya deteksi dini dan tatalaksana kasus untuk mencegah komplikasinya seperti PGK ini,” tambahnya.

Selanjutnya, Direktur Utama Dewan Direksi BPJS Kesehatan, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., Ph.D menyampaikan, penyakit Gagal Ginjal Kronik merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat menyebabkan pembiayaan katastropik bagi para penderitanya.

Menurutnya, sampai dengan saat ini mencapai 6,9 juta kasus pertahun dengan 238 ribu sampai dengan 405 ribu jiwa yang telah mendapatkan pelayanan dengan diagnosa gagal ginjal yang pembiayaannya dijamin oleh program Jaminan Kesehatan Nasional dengan biaya berkisar 4,3 s.d. 7,5 Triliyun setiap tahunnya. Sedangkan, untuk pelayanan HD sendiri setidaknya 6 juta kasus telah dilayanin dan dijamin oleh BPJS Kesehatan melalui Progran JKN pada tahun 2021 dengan biaya 4,7 Triliyun.

“BPJS Kesehatan saat ini telah mengimplementasikan simplifikasi rujukan bagi para peserta yang mendapatkan layanan kesehatan haemodialisa bagi peserta gagal ginjal kronis serta layanan transfusi dan pemberian obat rutin bagi peserta yang menderita thalassemia dan haemofilia. Peserta mendapatkan kemudahan dengan langsung mengakses pelayanan rujukan tingkat lanjutan dimana ia dilayani,” tambahnya.

dr. Ali Ghufron mengatakan, BPJS Kesehatan sendiri berkomitmen untuk dapat terus-menerus bekerja, berinovasi, dan berkolaborasi lebih baik lagi dengan semua stakeholder.

“Karena kami yakin bahwa keberhasilan program JKN ini adalah keberhasilan semua pihak, karena JKN adalah milik kita bersama,” tandasnya.

Semantara itu, Tony Richard Samosir, Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menjelaskan, untuk dapat hidup berkualitas dengan PGK, pasien harus dapat tetap berperan dalam kehidupannya. Peran dalam hidup ini diartikan sebagai kemampuan untuk terlibat dalam aktivitas hidup yang bermakna, diantaranya bekerja, belajar, bertanggung jawab pada keluarga, berpergian, berolahraga, beraktivitas sosial dan berekreasi, dan lainnya.

Selain itu, pasien dan pendampingnya harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan serta harus mengerti mengenai konsekuensi yang muncul akibat keputusan tersebut.

“Pendekatan berbasis kekuatan bertujuan untuk membentuk ketahanan diantara pasien- pasien PGK dengan meningkatkan hubungan sosial antar pasien. Hal ini dapat dicapai dengan misalnya membentuk kelompok pasien penyakit ginjal dan memberikan dukungan berupa edukasi dan evaluasi pemahaman berkala terhadap penyakitnya, dukungan moral antar sesama pasien. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam membuat keputusan akan modalitas pengobatannya. Selain itu, pengobatan terhadap aspek kejiwaan akibat kondisi penyakit ginjalnya seperti gangguan cemas, depresi, gangguan tidur, dan stres juga harus diberikan demi mengoptimalkan peran pasien dalam kehidupannya,” tutupnya.

Baca Juga: Olahraga Ringan Bisa Cegah Diabetes, Ini Faktanya

Baca Juga: Bencana Sumatera, Terapi Insulin Jadi Penopang Hidup

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan