Menu

Bisa Mengganggu Kesehatan Mental, Yuk Disiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

11 Maret 2022 17:05 WIB
Bisa Mengganggu Kesehatan Mental, Yuk Disiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

Ilustrasi ibu memeluk putrinya (yeni.mobi/Edited by HerStory)

HerStory, Bekasi —

Memukul menjadi salah satu topik parenting yang paling banyak diperdebatkan. Bagi banyak orang tua, memukul bisa menjadi cara tercepat dan paling efektif untuk mengubah perilaku anak. 

Namun menurut American Academy of Pediatrics (AAP) memukul memang dapat mengubah seorang anak dengan cepat, tetapi dampaknya tidak bertahan lama. 

Kekerasan terhadap anak tidak hanya sebatas memukul. Ada bentuk kekerasan lain yang mungkin tidak Moms sadari, yaitu kekerasan emosional atau verbal.

Beberapa tindakan kekerasan emosional yang sering tidak disadari diantaranya memanggil anak dengan nama yang tidak seharusnya, berteriak, menghina, mengabaikan, dan membiarkan anak menyaksikan argumen orang tuanya.  

Selain tidak efektif, kekerasan juga sangat berpotensi merusak kesehatan fisik dan mental anak dalam jangka panjang. 

Jika Moms tak ingin hal ini terhadi pada Si kecil, berikut tips untuk mendisiplinkan balita tanpa kekerasan, dilansir dari Healthy Children.

  • Balita  mulai mengenali apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak. Dia mungkin akan menguji beberapa aturan untuk melihat bagaimana Bunda bereaksi. Perhatikan dan pujilah perilaku yang Bunda sukai/positif dan abaikan perilaku yang ingin dihindari. Arahkan ulang ke aktivitas yang berbeda bila diperlukan.
  • Tantrum bisa menjadi lebih umum saat anak berjuang untuk menguasai keterampilan dan situasi baru. Antisipasi pemicu tantrum, seperti lelah atau lapar, dan bantu untuk mencegahnya dengan tidur siang dan makan yang tepat waktu.
  • Jelaskan bahwa terkadang merasa marah boleh saja, tetapi tidak untuk menyakiti seseorang atau memukul, menggigit, dan menggunakan perilaku agresif lainnya. Ajari anak cara menghadapi perasaan marah dengan cara yang positif, seperti membicarakannya. Bunda juga dapat memberi contoh dengan menangani konflik dengan pasangan dengan cara yang konstruktif.
  • Tetap konsisten dalam menegakkan batasan. Cobalah time-out singkat jika diperlukan.
  • Biarkan anak membuat pilihan di antara alternatif yang dapat diterima, mengarahkan dan menetapkan batas yang masuk akal.
  • Akui konflik antara saudara kandung tetapi hindari memihak. Misalnya, jika ada pertengkaran tentang mainan, mainan itu bisa disingkirkan. Jangan memberikannya kepada salah satu.

Ingatlah bahwa, sebagai orang tua, Moms dapat memberi diri waktu istirahat jika merasa di luar kendali. Pastikan saja anak berada di tempat yang aman. Ketika merasa lebih baik, kembalilah ke anak, peluk dan mulai dari awal. Jika merasa telah melakukan kesalahan, biarkan anak menangkan diri, kemudian minta maaf. Pastikan Bunda tidak akan melakukan kesalahan yang sama di masa depan.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Lihat Sumber Artikel di Akurat

Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Akurat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.

Oleh: Cherryn Lagustya

Artikel Pilihan